LIMA
Setapak
itu memanjang dari pantai ke suatu tempat yang jauh. Jalan itu lurus ke depan
tanpa sedikitpun berkelok, jadi ketika si Burung Enggak itu meninggalkan mereka
jauh di belakang, Adi dan Zach tahu kemana arah yang mereka tuju.
“Istirahat
sebentar.” Kata Adi ngos-ngosan. Dibukanya kaos basah yang menempel di tubuh
karena keringat. Lebih menonjolkan warna gelap kulit yang dipanggang matahari
daripada otot yang sama sekali tidak bisa dibanggakan.
Mereka
duduk di antara pohon-pohon kelapa di barisan terakhir, yang menjadi batas
antara hutan homogen dengan penampakan hutan dalam arti yang sesungguhnya. Yang
tadi itu pastilah bukan hutan, melainkan kebun pohon kelapa. Yang sekarang
menghalang di depan mata adalah hutan yang perawan.
Ada
aura asing yang memanggil, yang diantara bunyi krik-krik yang beragam yang
bersahutan. Sesekali teriakan elang atau alap-alap terdengar di udara.
Ada
semacam energi asing yang dirasakan oleh Adi, yang membuatnya ragu untuk masuk
lebih dalam.
Outdoor
Java, dalam 5 tahun eksistensinya kadang-kadang harus berada jauh ke luar dari
pulau Jawa yang menjadi asal-muasal penamaannya. Karena dituntut pasar,
terpaksa Adi dan pegawainya harus menambahkan spot-spot diving yang jauh, hingga yang paling ekstrim_trecking berhari-hari
menjelajah hutan Kalimantan. Aneka macam kegiatan luar ruangan kini memenuhi
kolom di akun Instagram. Adi Prakoso, bahkan pernah tercatat sebagai relawan
dalam upaya pencarian dan evakuasi korban pesawat jatuh di Pangkalan Bun.
Dengan pengalaman itu, dan tanggungjawabnya atas Zach sebagai klien, hutan di
depan sana memang harus diterabas. Lagi pula dia berpengalaman. Lagi pula
mereka hanya harus mengikuti setapak yang lurus itu kan? Tapi energi itu, yang
memanggil-manggil, membuatnya semakin ragu.
Hutan
memang terlihat menenangkan, tapi sama seperti air, ketenangan sering kali
menghanyutkan.
“Kita
nggak perlu ragu-ragu dengan hutan itu,” kata Zach membuyarkan lamunan Adi.
“Setelah portal dan Burung itu, pasti tempat ini masih menyimpan banyak hal
yang ajaib-ajaib.”
“Benar
katamu.” Jawab Adi tanpa sedikitpun memalingkan pandangannya pada setapak itu.
“Ini bukan lagi Bumi. Ini Wonderland.”
“Kita
harus menyiapkan diri.” Zach setuju. “Mulai sekarang, semua hal yang aneh-aneh
jangan dianggap mistis dan jahat.”
Adi
mengangguk setuju. Lagipula tidak ada pilihan lain. Tidak ada alasan kembali ke
pantai. Hutan, walaupun menakutkan, menyimpan banyak makanan. Hidup mereka akan
lebih terjamin di dalam sana. “Kalau begitu ayo.”
Belum
jauh mereka masuk, si Burung Enggak ternyata menunggu di tengah jalan. Dia
bertengger di sebuah dahan di tepian jalan setapak. “ Ayo manusia! Tidak ada
waktu.” Lantas dia kembali terbang. Menuntun jalan. “Tidak ada waktu.”
Sejam.
Dua
jam.
Kanopi
hutan memang ampuh menahan teriknya matahari, tapi udara panas di bawahnya
tidak bisa dilawan. Adi dan Zach berhenti untuk bernapas. Sendari tadi berjalan
di jalan yang lurus dengan kiri-kanan yang terlihat seperti itu-itu saja,
membuat perjalanan ini terasa begitu menjemukan. Diambang kebosanan dan rasa
lapar, kelelahan terasa sangat nyata.
“Ayo,”
Burung itu menyeru. “Tidak ada waktu.”
“Capek.”
Jawab Adi kesal. “Kita butuh istirahat.”
“Sebentar
lagi kita sampai. Ayo!”
Kali
ini Zach yang menyahut. “Ayo…Ayo…Dari tadi.” Diambilnya sisa air dalam botol di
samping carrier. Dia meneguknya beberapa kali, lalu melemparnya pada Adi. “Dari
tadi kamu cuma bilang ayo-ayo doang tapi nggak sampai-sampai. Emangnya kita mau
kemana sih?” Zach mulai curiga. Ini kali pertama dia ke tempat ini, dan Burung
Enggak ini belum dikenalnya lama. Jika bukan karena panik, karena si Burung
sempat menyinggung-nyinggung tentang Pasukan Iblis dan lain sebagainya, mungkin
dia lebih memilih untuk tinggal di pantai lebih lama daripada harus berjalan
jauh sekali ke tempat yang asing.
Sebagai
orang yang baru pertama kali ditemuinya, Zach sudah benar jika harus menaruh
curiga padanya. Lagipua dia juga bukan manusia, dan ekspresinya sama sekali
tidak terbaca. Juga intonasi bicaranya. Berbicara dengan yang namanya siluman
ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Tidak adanya emosi yang tersirat,
wajar jika dia harus ekstra berhati-hati.
“Aku
ini burung yang baik.” Kata si Burung tenang. Sekarang dia menapak di tanah,
mendongak pada Zach. “ Panggil aku Binggo. Aku berasal dari Kerajaan Timur.
Desa Monster.” Dengan kuku kakinya, dia mengetuk-ngetuk gelang di pergelangan
kaki kanannya. “Kami menyebut tempat kami Akar dan Daun.”
Mereka
melihat gelang itu. terbuat dari logam yang mungkin perak dengan ukiran sebuah
lambang di bagian tengah, yang memisahkan kata Akar dan Daun.
“Ini
lambang kerajaan para monster.” Katanya menjelaskan. “Kalian mengerti?”
Keduanya
hanya bengong.
Binggo
menunjukannya sekali lagi simbol itu dengan bangga. Sebuah gambar sederhana
berupa tanaman tak berbunga yang menjuntai dari sebuah pot trapesium sama kaki.
“Dan
karena kamu tidak melihat lambang kerajaan kami, kamu mengira kalau kami datang
dari Bumi?” Entah apa yang dikatakannya. Tapi Adi tahu kalau kekacauan ini
pasti berasa dari alasan itu. Dia dan Zach berasal dari Bumi, dan ini yang
dikawatirkan Binggo. Adi menatapnya tajam.
Sementara
itu Zach hanya membatin bahwa semua yang dinarasikan Binggo memang sulit
dipercaya, dan mosi tidak percaya Adi harus didukung. Tapi dia masih memilih
untuk diam.
“Tepat
sekali.” Jawab Binggo. “Hewan dan monster hanya bisa dibedakan dengan dua cara.
Kami, para monster bisa berbicara dan menggunakan lambang ini. Lagi pula,
kalian tiba-tiba muncul entah dari mana setelah gempa buminya berhenti. Ini
indikasi terkuatnya.”
Adi
bergidik. Zach benar, di luar portal pelangi di Pasar Bubrah, dan monster
imut-imut ini, keanehan-keanehan lain sudah menanti. Hanya menunggu waktu. Ini Wonderland, pikirnya. Ini Narnia. “Kamu bohong, kemarin tidak
ada gempa bumi.”
“Untuk
apa aku berbohong?”
Zach
membatin. Ya, kemarin itu badai angin.
Bukan gempa bumi.
Adi.
“Bagaimana kalau kami menghilangkan tanda kerajaan kami di perjalanan.”
Binggo.
“Jelas tidak mungkin.”
Adi.
“Tidak mungkin bagaimana. Itu cuman gelang dan benda itu bisa saja terjatuh
atau apa…”
Binggo.
“…Tidak perlu berbohong, wahai anak Adam.
Manusia di Sisi Bumi tidak berpakaian aneh seperti itu. Lagipula, tato
tidak mungkin bisa dihapus.”
“Tato?”
Potong Zach. Dia langsung mempelajari segala keanehan yang apa pada dirinya.
Pada kaos hitam di balik flannel kotak-kotaknya. Sepatu dan celana pendeknya.
Carrier. Jam tangan.
Binggo
meloncat dari tanah ke sebuah dahan. Kini Matanya segaris dengan Zach yang ada
di depan. Berbicara dalam bisik-bisik. “Tanah dan Air selalu ditatokan. Itu
cara manusia menjaga identitas mereka.” Lalu matanya memburu Adi. “Di
pergelangan tangan kanan.”
Adi
dan Zach terbungkam. Mereka tidak tahu apa-apa dan mereka kalah telak.
“Tanpa
tato itu, kalian ilegal dan tidak akan diterima di kerajaan manapun di Sisi
Bumi. Termasuk di Kerajaan Selatan, Tanah dan Air, Kerjaan Manusia.” Binggo
masih terus menatap mata Adi dalam-dalam. “Kalian akan dikira pemberontak.
Kalian harus tahu bahwa hukuman terberat yang berlaku di Kerajaan Selatan
bukanlah eksekusi mati, melainkan dicabut kewarganegaraannya.” Binggo memberi
jeda untuk mereka bisa mencerna kata-katanya. “Mereka akan dibuang dan
diasingkan.”
Sebesit
ide melintas di kepala Zach. “Kalau begitu kita buat saja tato palsu.” Katanya
polos yang langsung dipelototi Binggo.
“Itu
yang ingin aku lakukan untuk kalian.” Kini kata-kata Binggo terdengar
meyakinkan untuk mereka. Binggo mulai bergerak lagi mengikuti setapak, terbang
dari dahan ke dahan. Binggo seakan memberi ketegasan, siapa di sini yang lebih
mengenal alam liar. Sementara itu, Adi dan Zach terpaksa mengekor di belakang.
Mereka harus mengakui bahwa sebagai pendatang dari Bumi, mereka buta akan
segala yang ada di sini, yang kini mereka tahu nama dari tempat yang dipenuhi
dengan keanehan, sekaligus yang ajaib-ajaib_Sisi Bumi.
“Sambil
kita berjalan, bisa nggak kalau kamu ceritakan lagi apa itu Sisi Bumi!” Celetuk
Zach. “Kita perlu tahu lebih banyak.”
Sementara
pada jarak yang sangat jauh, Pangeran Travolta terbangun dari tidur singkatnya.
Matahari sudah benderang ketika sesosok malaikat muncul. Berdiri di samping
kasurnya. Keempat sayapnya menghalangi sinar matahari yang masuk dari jendela,
memberi Travolta pengelihatan siluet yang dramatis sedramatis kedatangannya
kali ini.
“Ada
perkembangan terbaru,” Kata malaikat itu. Suaranya terdengar ringan dan
berbisik. Seakan suara itu hanya masuk ke telinga Travolta tanpa menyebar ke
seluruh ruangan.
Siluet
setinggi lebih dari dua meter itu menarik pedang di pinggangnya dengan mantap.
Travolta yang masih diambang sadar dan tidur, tahu-tahu dikejutkan dengan
hantaman pedang yang berkilauan karena cahaya itu. Sutra abu-abu yang
dikenakannya terobek hingga ke kulit, hingga menembus jantungnya yang seketika
meledak. Saat itu juga tubuh Travolta melonjak dari kasur. Badannya
panas-dingin. Napasnya tanggal-tanggal. Basah oleh keringat. Tangannya segera
merambat ke bagian dada. Tidak ada luka di sana. Mimpi buruk. Dia mengais napas dalam-dalam untuk memulihkan
kesadarannya, membiarkan gelombang kelegaan mengisi seluruh paru-parunya.
Tapi
Travolta segera sadar dengan kehadiran nyata malaikat itu yang kini berdiri,
bersenderan di depan jendela yang terbuka. Menatapnya dengan tajam. “Kamu harus
cepat, ini sudah sangat terlambat.” Kata-katanya langsung menyerang tanpa ada
permisi.
Maliakat sialan.
Travolta hanya bisa membatin. Tadi hadir
di mimpi, sekarang beneran hadir.
“Namaku
Bruno.” Kata si Malaikat tenang. “Ada informasi terbaru.”
“Apa
lagi?” Balas Travolta dengan kata-kata yang tajam. Seakan merasa kesal karena
malaikat ini selalu hadir dengan cara yang tak pernah terduga. “Tidak ada
apa-apa di perpustakaan.”
“Ada
sebuah benda…”
“…Sudah
dua minggu.”
Tiga
detik Bruno menggantungkan waktu sebelum akhirnya dia merasa perlu menjelaskan
sekali lagi kepada Travolta. Pertama-tama Bruno menjelaskan bahwa dia dikirim
secara khusus oleh satuan militer Armada Malaikat dari Kastil Malaikat di
Kerajaan Barat yang dijuluki Langit dan Cahaya.
Kedua,
poin dari kedatangannya kali ini adalah untuk menyampaikan sebuah wasiat.
“Raja
Alansa mencuri tahta Kerajaan Selatan dari Raja Amoro.” Kata Bruno seraya
menyerahkannya pada Travolta. Sebuah gulungan kertas yang dibelit dengan pita
biru muda yang disegel dengan lilin bersimbol lambang resmi Kerajaan Barat.
Simbol yang juga terdapat di dada kanan seragam yang dikenakannya.
Tangan
Travolta bergetar saat menerimanya. “Apa maksudnya?”
“Itu
surat yang diwasiatkan untukmu.” Bruno bisa paham dengan kebingungan yang ada
pada diri Travolta. Semua yang disampaikannya sejak pertama kali datang menemui
Travolta beberapa minggu yang lalu, pasti mengejutkannya. “ Kamu harus tahu
bahwa tidak ada kasus bunuh diri di perpustakaan.”
Tidak
ada bukti untuk membenarkan segala yang disampaikan Bruno padanya. Antara ingin
menepis tapi tidak bisa, dan ingin percaya tapi tidak semudah itu, Travolta
diambang perasaan yang memusingkan. Dia hanya diam tanpa ingin berkata-kata
lagi.
“Bahwa
Raja Alansalah yang membunuh ayahmu.”
Awan
mendung seketika menguasai Travolta. Segala macam emosi teraduk di dalam
hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar