Sabtu, 20 November 2021


 

LIMA

Setapak itu memanjang dari pantai ke suatu tempat yang jauh. Jalan itu lurus ke depan tanpa sedikitpun berkelok, jadi ketika si Burung Enggak itu meninggalkan mereka jauh di belakang, Adi dan Zach tahu kemana arah yang mereka tuju.

“Istirahat sebentar.” Kata Adi ngos-ngosan. Dibukanya kaos basah yang menempel di tubuh karena keringat. Lebih menonjolkan warna gelap kulit yang dipanggang matahari daripada otot yang sama sekali tidak bisa dibanggakan.

Mereka duduk di antara pohon-pohon kelapa di barisan terakhir, yang menjadi batas antara hutan homogen dengan penampakan hutan dalam arti yang sesungguhnya. Yang tadi itu pastilah bukan hutan, melainkan kebun pohon kelapa. Yang sekarang menghalang di depan mata adalah hutan yang perawan.

Ada aura asing yang memanggil, yang diantara bunyi krik-krik yang beragam yang bersahutan. Sesekali teriakan elang atau alap-alap terdengar di udara.

Ada semacam energi asing yang dirasakan oleh Adi, yang membuatnya ragu untuk masuk lebih dalam.

Outdoor Java, dalam 5 tahun eksistensinya kadang-kadang harus berada jauh ke luar dari pulau Jawa yang menjadi asal-muasal penamaannya. Karena dituntut pasar, terpaksa Adi dan pegawainya harus menambahkan spot-spot diving yang jauh, hingga yang paling ekstrim_trecking berhari-hari menjelajah hutan Kalimantan. Aneka macam kegiatan luar ruangan kini memenuhi kolom di akun Instagram. Adi Prakoso, bahkan pernah tercatat sebagai relawan dalam upaya pencarian dan evakuasi korban pesawat jatuh di Pangkalan Bun. Dengan pengalaman itu, dan tanggungjawabnya atas Zach sebagai klien, hutan di depan sana memang harus diterabas. Lagi pula dia berpengalaman. Lagi pula mereka hanya harus mengikuti setapak yang lurus itu kan? Tapi energi itu, yang memanggil-manggil, membuatnya semakin ragu.

Hutan memang terlihat menenangkan, tapi sama seperti air, ketenangan sering kali menghanyutkan.

“Kita nggak perlu ragu-ragu dengan hutan itu,” kata Zach membuyarkan lamunan Adi. “Setelah portal dan Burung itu, pasti tempat ini masih menyimpan banyak hal yang ajaib-ajaib.”

“Benar katamu.” Jawab Adi tanpa sedikitpun memalingkan pandangannya pada setapak itu. “Ini bukan lagi Bumi. Ini Wonderland.”

“Kita harus menyiapkan diri.” Zach setuju. “Mulai sekarang, semua hal yang aneh-aneh jangan dianggap mistis dan jahat.”

Adi mengangguk setuju. Lagipula tidak ada pilihan lain. Tidak ada alasan kembali ke pantai. Hutan, walaupun menakutkan, menyimpan banyak makanan. Hidup mereka akan lebih terjamin di dalam sana. “Kalau begitu ayo.”

Belum jauh mereka masuk, si Burung Enggak ternyata menunggu di tengah jalan. Dia bertengger di sebuah dahan di tepian jalan setapak. “ Ayo manusia! Tidak ada waktu.” Lantas dia kembali terbang. Menuntun jalan. “Tidak ada waktu.”

Sejam.

Dua jam.

Kanopi hutan memang ampuh menahan teriknya matahari, tapi udara panas di bawahnya tidak bisa dilawan. Adi dan Zach berhenti untuk bernapas. Sendari tadi berjalan di jalan yang lurus dengan kiri-kanan yang terlihat seperti itu-itu saja, membuat perjalanan ini terasa begitu menjemukan. Diambang kebosanan dan rasa lapar, kelelahan terasa sangat nyata.

“Ayo,” Burung itu menyeru. “Tidak ada waktu.”

“Capek.” Jawab Adi kesal. “Kita butuh istirahat.”

“Sebentar lagi kita sampai. Ayo!”

Kali ini Zach yang menyahut. “Ayo…Ayo…Dari tadi.” Diambilnya sisa air dalam botol di samping carrier. Dia meneguknya beberapa kali, lalu melemparnya pada Adi. “Dari tadi kamu cuma bilang ayo-ayo doang tapi nggak sampai-sampai. Emangnya kita mau kemana sih?” Zach mulai curiga. Ini kali pertama dia ke tempat ini, dan Burung Enggak ini belum dikenalnya lama. Jika bukan karena panik, karena si Burung sempat menyinggung-nyinggung tentang Pasukan Iblis dan lain sebagainya, mungkin dia lebih memilih untuk tinggal di pantai lebih lama daripada harus berjalan jauh sekali ke tempat yang asing.

Sebagai orang yang baru pertama kali ditemuinya, Zach sudah benar jika harus menaruh curiga padanya. Lagipua dia juga bukan manusia, dan ekspresinya sama sekali tidak terbaca. Juga intonasi bicaranya. Berbicara dengan yang namanya siluman ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Tidak adanya emosi yang tersirat, wajar jika dia harus ekstra berhati-hati.

“Aku ini burung yang baik.” Kata si Burung tenang. Sekarang dia menapak di tanah, mendongak pada Zach. “ Panggil aku Binggo. Aku berasal dari Kerajaan Timur. Desa Monster.” Dengan kuku kakinya, dia mengetuk-ngetuk gelang di pergelangan kaki kanannya. “Kami menyebut tempat kami Akar dan Daun.”

Mereka melihat gelang itu. terbuat dari logam yang mungkin perak dengan ukiran sebuah lambang di bagian tengah, yang memisahkan kata Akar dan Daun.

“Ini lambang kerajaan para monster.” Katanya menjelaskan. “Kalian mengerti?”

Keduanya hanya bengong.

Binggo menunjukannya sekali lagi simbol itu dengan bangga. Sebuah gambar sederhana berupa tanaman tak berbunga yang menjuntai dari sebuah pot trapesium sama kaki.

“Dan karena kamu tidak melihat lambang kerajaan kami, kamu mengira kalau kami datang dari Bumi?” Entah apa yang dikatakannya. Tapi Adi tahu kalau kekacauan ini pasti berasa dari alasan itu. Dia dan Zach berasal dari Bumi, dan ini yang dikawatirkan Binggo. Adi menatapnya tajam.

Sementara itu Zach hanya membatin bahwa semua yang dinarasikan Binggo memang sulit dipercaya, dan mosi tidak percaya Adi harus didukung. Tapi dia masih memilih untuk diam.

“Tepat sekali.” Jawab Binggo. “Hewan dan monster hanya bisa dibedakan dengan dua cara. Kami, para monster bisa berbicara dan menggunakan lambang ini. Lagi pula, kalian tiba-tiba muncul entah dari mana setelah gempa buminya berhenti. Ini indikasi terkuatnya.”

Adi bergidik. Zach benar, di luar portal pelangi di Pasar Bubrah, dan monster imut-imut ini, keanehan-keanehan lain sudah menanti. Hanya menunggu waktu. Ini Wonderland, pikirnya. Ini Narnia. “Kamu bohong, kemarin tidak ada gempa bumi.”

“Untuk apa aku berbohong?”

Zach membatin. Ya, kemarin itu badai angin. Bukan gempa bumi.

Adi. “Bagaimana kalau kami menghilangkan tanda kerajaan kami di perjalanan.”

Binggo. “Jelas tidak mungkin.”

Adi. “Tidak mungkin bagaimana. Itu cuman gelang dan benda itu bisa saja terjatuh atau apa…”

Binggo. “…Tidak perlu berbohong, wahai anak Adam.  Manusia di Sisi Bumi tidak berpakaian aneh seperti itu. Lagipula, tato tidak mungkin bisa dihapus.”

“Tato?” Potong Zach. Dia langsung mempelajari segala keanehan yang apa pada dirinya. Pada kaos hitam di balik flannel kotak-kotaknya. Sepatu dan celana pendeknya. Carrier. Jam tangan.

Binggo meloncat dari tanah ke sebuah dahan. Kini Matanya segaris dengan Zach yang ada di depan. Berbicara dalam bisik-bisik. “Tanah dan Air selalu ditatokan. Itu cara manusia menjaga identitas mereka.” Lalu matanya memburu Adi. “Di pergelangan tangan kanan.”

Adi dan Zach terbungkam. Mereka tidak tahu apa-apa dan mereka kalah telak.

“Tanpa tato itu, kalian ilegal dan tidak akan diterima di kerajaan manapun di Sisi Bumi. Termasuk di Kerajaan Selatan, Tanah dan Air, Kerjaan Manusia.” Binggo masih terus menatap mata Adi dalam-dalam. “Kalian akan dikira pemberontak. Kalian harus tahu bahwa hukuman terberat yang berlaku di Kerajaan Selatan bukanlah eksekusi mati, melainkan dicabut kewarganegaraannya.” Binggo memberi jeda untuk mereka bisa mencerna kata-katanya. “Mereka akan dibuang dan diasingkan.”

Sebesit ide melintas di kepala Zach. “Kalau begitu kita buat saja tato palsu.” Katanya polos yang langsung dipelototi Binggo.

“Itu yang ingin aku lakukan untuk kalian.” Kini kata-kata Binggo terdengar meyakinkan untuk mereka. Binggo mulai bergerak lagi mengikuti setapak, terbang dari dahan ke dahan. Binggo seakan memberi ketegasan, siapa di sini yang lebih mengenal alam liar. Sementara itu, Adi dan Zach terpaksa mengekor di belakang. Mereka harus mengakui bahwa sebagai pendatang dari Bumi, mereka buta akan segala yang ada di sini, yang kini mereka tahu nama dari tempat yang dipenuhi dengan keanehan, sekaligus yang ajaib-ajaib_Sisi Bumi.

“Sambil kita berjalan, bisa nggak kalau kamu ceritakan lagi apa itu Sisi Bumi!” Celetuk Zach. “Kita perlu tahu lebih banyak.”

Sementara pada jarak yang sangat jauh, Pangeran Travolta terbangun dari tidur singkatnya. Matahari sudah benderang ketika sesosok malaikat muncul. Berdiri di samping kasurnya. Keempat sayapnya menghalangi sinar matahari yang masuk dari jendela, memberi Travolta pengelihatan siluet yang dramatis sedramatis kedatangannya kali ini.

“Ada perkembangan terbaru,” Kata malaikat itu. Suaranya terdengar ringan dan berbisik. Seakan suara itu hanya masuk ke telinga Travolta tanpa menyebar ke seluruh ruangan.

Siluet setinggi lebih dari dua meter itu menarik pedang di pinggangnya dengan mantap. Travolta yang masih diambang sadar dan tidur, tahu-tahu dikejutkan dengan hantaman pedang yang berkilauan karena cahaya itu. Sutra abu-abu yang dikenakannya terobek hingga ke kulit, hingga menembus jantungnya yang seketika meledak. Saat itu juga tubuh Travolta melonjak dari kasur. Badannya panas-dingin. Napasnya tanggal-tanggal. Basah oleh keringat. Tangannya segera merambat ke bagian dada. Tidak ada luka di sana. Mimpi buruk. Dia mengais napas dalam-dalam untuk memulihkan kesadarannya, membiarkan gelombang kelegaan mengisi seluruh paru-parunya.

Tapi Travolta segera sadar dengan kehadiran nyata malaikat itu yang kini berdiri, bersenderan di depan jendela yang terbuka. Menatapnya dengan tajam. “Kamu harus cepat, ini sudah sangat terlambat.” Kata-katanya langsung menyerang tanpa ada permisi.

Maliakat sialan. Travolta hanya bisa membatin. Tadi hadir di mimpi, sekarang beneran hadir.

“Namaku Bruno.” Kata si Malaikat tenang. “Ada informasi terbaru.”

“Apa lagi?” Balas Travolta dengan kata-kata yang tajam. Seakan merasa kesal karena malaikat ini selalu hadir dengan cara yang tak pernah terduga. “Tidak ada apa-apa di perpustakaan.”

“Ada sebuah benda…”

“…Sudah dua minggu.”

Tiga detik Bruno menggantungkan waktu sebelum akhirnya dia merasa perlu menjelaskan sekali lagi kepada Travolta. Pertama-tama Bruno menjelaskan bahwa dia dikirim secara khusus oleh satuan militer Armada Malaikat dari Kastil Malaikat di Kerajaan Barat yang dijuluki Langit dan Cahaya.

Kedua, poin dari kedatangannya kali ini adalah untuk menyampaikan sebuah wasiat.

“Raja Alansa mencuri tahta Kerajaan Selatan dari Raja Amoro.” Kata Bruno seraya menyerahkannya pada Travolta. Sebuah gulungan kertas yang dibelit dengan pita biru muda yang disegel dengan lilin bersimbol lambang resmi Kerajaan Barat. Simbol yang juga terdapat di dada kanan seragam yang dikenakannya.

Tangan Travolta bergetar saat menerimanya. “Apa maksudnya?”

“Itu surat yang diwasiatkan untukmu.” Bruno bisa paham dengan kebingungan yang ada pada diri Travolta. Semua yang disampaikannya sejak pertama kali datang menemui Travolta beberapa minggu yang lalu, pasti mengejutkannya. “ Kamu harus tahu bahwa tidak ada kasus bunuh diri di perpustakaan.”

Tidak ada bukti untuk membenarkan segala yang disampaikan Bruno padanya. Antara ingin menepis tapi tidak bisa, dan ingin percaya tapi tidak semudah itu, Travolta diambang perasaan yang memusingkan. Dia hanya diam tanpa ingin berkata-kata lagi.

“Bahwa Raja Alansalah yang membunuh ayahmu.”

Awan mendung seketika menguasai Travolta. Segala macam emosi teraduk di dalam hatinya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar