EMPAT
Dalam
keputusasaan, Travolta menghempaskan seluruh berat badannya pada senderan kursi
tua berdebu. Menggerutu. Malaikat sialan.
Sudah
hampir dua minggu setiap tengah malam, dia harus melakukan semua ini dalam
kerahasiaan. Diam-diam masuk ke sebuah tempat terlarang, tempat yang tersegel
dari publik dengan julukan perpustakaan berhantu. Yang membuatnya pilu adalah,
semua buku-buku yang tersimpan, perabot-perabot, pajangan-pajangan yang konon,
menurut desas-desus yang tersebar, telah dikutuk oleh seorang hantu gentayangan
bernama Amoro.
Bayangan
masa lalunya muncul kembali, mengiringi cerita-certia mistis yang kini
menggerayanginya dari segala sudut. Saat itu dia berusia 10 tahun, terbangun
dari tidur nyenyaknya ketika suatu kegaduhan terjadi. Sejak kali pertama
menenggelamkan diri ke dalam kegelapan perpustakaan ini, sosok sang ayah selalu
saja hadir. Bukan dalam wujud hantu bergentayangan, melainkan potongan-potongan
ingatan.
“Apa
yang terjadi?” Teriak seseorang di balik pintu kamarnya.
Jawabannya
berupa bisik-bisik.
Travolta
kecil turun dari kasur mendekati pintu. Mengintip melalui lubang kunci.
“Di
perpustakaan,” seseorang menjawab. “Semua sedang menuju ke sana.”
Terdengar
derap-derap langkah kaki yang menjauh.
Bergegas
bocah itu keluar kamar. Dengan piaya dan kaki telanjang, dia menguntit
orang-orang yang tergesa-gesa berlarian menuju tempat yang sama.
“Dimana
Travolta?” Kata seseorang.
Travolta
mengenalinya. Suara itu lembut dan merdu. Tidak salah lagi, itu pamannya
Alansa.
Ajudan
di sisi kanannya menjawab. Masih dalam bisik-bisik. “Pintu kamarnya terkunci,
Pangeran.”
“Bagus.”
Mendengar
sepotong namanya disebut-sebut, Travolta merasa tidak nyaman. Entah apa dan
entah mengapa, dia merasa ada dirinya yang mungkin berkaitan dengan segalanya
yang gaduh malam ini. Kemudian dia berhenti, bersembunyi di dalam ceruk, di
balik patung seorang pria telanjang seukuran manusia asli. Dari sini dia
mengamati.
“Segera
bawa ke ruang isolasi! Ikuti semua protokol, dan sekali lagi…” Tiba-tiba Alansa
berbalik badan, mengunci pandangannya pada sebuah patung yang menatapnya balik
dengan pandangan kosong. Dia yakin sekali kalau patung itu baru saja bergerak.
Kemudian dia kembali lagi pada si ajudan. “Jangan sampai pangeran muda tahu
hingga pengumuman resmi dari dewan kerajaan dirilis.”
Travolta
mengutuk dirinya sendiri, yang karena kecerobohannya patung itu goyah karena
tersenggol. Dia terus mengintip dari sela-sela yang terbentuk dari pose kedua
kaki patung itu yang saling menyilang. Terlihat seseorang dibopong dengan
tandu. Sekujur tubuh orang itu ditutupi selembar kain putih. Ada noda darah
yang sepertinya, sumbernya ada pada pergelangan tangan atau luka di paha.
Alansa
terlihat mencurigakan. Ada sesuatu yang mencurigakan.
Setelah
memastikan orang-orang itu, yang dipimpin Alansa berada di jarak yang cukup
aman, Travolta berlari ketakutan kembali ke kamarnya.
Tidak
perlu gembok baja atau papan peringatan. Sejak tragedi bunuh diri itu hingga
sekarang, perpustakaan terlarang dari segala macam jenis aktivitas. Mitos itu
segera menyebar dengan begitu cepat_hantu raja Amoro bergentayangan setiap
malam_menyegel pintu itu dengan sangat baik.
Omong kosong.
Gerutu Travolta. Ayahku bukan hantu.
Segaris
cahaya orange terlihat di jendela. Waktunya habis untuk hari ini. Bergegas dia
menutup jendela, merapikan kursi, dan menyambar lentera itu. Lantas pergi.
…..
Mereka
mendarat di pantai berpasir putih yang dipeluk erat lautan yang menenangkan. Badai
itu sudah berlalu, digantikan dengan angin yang meniup sepoi-sepoi yang menyejukkan.
Juga matahari pagi yang siap menyambut. Tidak ada lagi kabut yang dingin. Tidak
ada lagi batu-batu raksasa di atas pasir vulkanik yang cadas.
“Badainya
sudah pergi.” Dengan wajah yang sekacau itu, Zach mencoba tersenyum, siap menyambut
Adi yang baru saja siuman. “Lihat mas, masih dapet sunrie kan kita. Hehehe…”
Jauh
di depan mata, berlahan-lahan bulatan sempurna itu merangkak naik dari dalam
laut di ujung cakrawala, menyiptakan semburat cahaya orange yang semakin
melebar. Awan-awan tipis terarak.
Lautan
sedang tenang-tenangnya.
Mereka
tidak mencuim bau belerang, melainkan segarnya aroma garam.
Pohon-pohon
kelapa.
Dengan
kepala pusing dan mata masih belekkan. Sejenak Adi berpikir, badainya sekuat
apa? Bisa-bisanya mereka terbawa angin sampai ke tempat ini. Mustahil untuk
percaya bahwa badai kemarin mampu menerbangkannya dari Pasar Bubrah di
ketinggian lebih dari 2500 meter sampai ke pantai ini dengan altitude kurang
dari 1 MDPL. Segalanya menjadi
terlalu ajaib untuk bisa dimasukkan akal.
“Pasar
Bubrah emang seajaib itu ya?” Zach menatap Adi lama. “Kita mencelat dari gunung
ke pantai. Nggak mati? Cuma lecet-lecet doang?”
,Butuh
waktu untuk Adi mencerna pertanyaan itu. Dari semua pendaki yang pernah
bercerita tentang hal-hal minor tentang gunung, baru kali ini pertanyaan
sebegitu polosnya terlontar dari mulut seseorang. Mengesampingkan bahwa dia
memang firstimer dan kurang banyak tahu soal topik-topik obrolan para pendaki. Ada
fakta menggelitik bahwa Zach memilih kata ‘ajaib’ dibandingkan dengan beberapa
jenis diksi yang sebenarnya lebih cocok dipakai semacam ‘angker, mistis, atau
sakral.’
“Ekstraterestrial?”
Adi
menggeleng. Dipilihnya istilah yang menurutnya lebih pas. “Supranatural.”
Jawabnya. “Kamu tahu nggak, katamu kamu lulusan luar negeri dan kerja di Australia
sudah tahunan, tapi pertanyaanmu barusan,” Adi menghela napas panjang, memilih
untuk geleng-geleng daripada melanjutkannya. “Ini masalah serius Zach, jangan
main-mian.”
“Habis
kita bisa apa? Sudah terlanjur begini keadaannya. Hehe…”
“Selera
humormu itu nggak ada lucu-lucunya.”
Zach
hanya cengar-cengir. “Kalau begitu sekarang bagaimana?”
“Aku
nggak tahu. Kemarin itu badai terparang yang kutemui, terus soal pelangi itu…”
Sekata tiba-tiba muncul dibenaknya. Berputar-putar. “…Itu juga aku nggak tahu.”
Sekali
lagi Zach menatapnya lama. “Pelangi itu…Frame itu…Portal.”
Portal? Sejenak
Adi dibungkam oleh jawaban itu. Dibalik kepolosan Zach dan pembawaannya yang
santai cenderung cengengesan, Adi memang harus percaya bahwa orang ini pintar. Dia
lulusan luar negeri dan sudah kerja di Australia bertahun-tahun
“Mungkin
ada hubungannya dengan camp terakhir waktu kita kemah.”
“Pasar
Bubrah?” Adi menyipitkan matanya, Itu terdengar konyol sekaligus benar
untuknya. Zach ternyata memang tidak sepolos yang dipikirkannya. “Kamu ini setengah
bule tapi bisa percaya sama yang begitu-begituan.”
“Aku
ini setengah Jawa, makanya aku harus percaya sama yang begitu-begituan.”
“Tapi
masa iya, portal?”
“Tapi
semuanya aneh kan?” Zach menuntut. Dia tahu apa yang mereka alami memang sulit
dipercaya, bahkan untuk orang yang mengaku sudah mendaki Merapi belasan kali
seperti Adi. Bisa saja Adi mengenal tempat itu dengan sangat baik, tapi itu
dari segi fisiknya, bukan dari hal-hal minornya. Atau mungkin karena baru
pertama ini Adi mengalami ‘ketiban sial’ di gunung. “Mas Adi juga dengar kan
suara-suara yang kemarin? Mau ekstraterestrial, mau supranatural, kenyataannya
kita emang masuk ke dalam frame pelangi itu dan…” Zach mengamati sekitar.
“…Disini kita sekarang.”
“Aku
baru siuman, beri waktu sebentar. Okey!”
Zach
bisa mengerti, toh sendari tadi Adi terus-terusan memijat-mijat kepalanya.
Proses mendaratnya mungkin lebih parah dari yang dialaminya.
Ada
jeda beberapa menit sebelum Zach akhirnya mengatakan sesuatu yang sudah
ditahan-tahannya dari tadi. “Mas Adi sadar nggak? Kalau mungkin, kita sedang
tidak berada di Bumi.” Ditunjuknya sebuah titik di kejauhan. Terlihat ada
sebuah plang penunjuk jalan “Kemarin aku mendarat di dekat situ. Kamu harus
lihat!”
“Ngomong
apa sih?”
Zach
langsung berdiri sambil menarik tangan Adi. “Ayo! Dibilangin nggak percaya.”
Sambil
mereka berjalan sambil Adi mencari-cari sebuah identitas yang mungkin
dikenalinya. Pertama, mengingat jaraknya yang paling dekat dengan gunung
Merapi, Adi sudah menduga mungkin tempat ini berada di daerah Gunung Kidul.
Tapi pantai ini benar-benar steril dari jejak-jejak keberadaan manusia. Tidak
ada perahu-perahu. Tidak ada gazebo-gazebo. Matanya terus memindai. Tidak ada
sampah-sampah plastik di sepanjang mereka berjalan. Jauh di sebelah kanan,
hutan pohon kelapa yang terlalu rimbun. Dia melihat 2 carrier besar saling
bersender dengan rapi. “Itu kamu yang beresin?”
“Waktu
kamu belum bangun, aku sudah kumpulin semua barang-barang.”
“Tendanya
bagaimana?” yang terlintas di kepala Adi, jika benar tempat ini asing untuk
mereka, tenda adalah kebutuhan primer untuk bertahan hidup selain perkakas
untuk masak-masak. “Kompor? Gas? Nesting…”
“…Udah
semua. Nesting penyok-penyok, matras tinggal satu.”
…..
Adi
berdiri dengan heran. Plang penunjuk jalan seperti ini memang ada dimana-mana,
sering juga dianggap second landmark
suatu kota untuk kepentingan wisata. Tapi yang ini, ada berbeda.
“Gimana?
Mas Adi tahu apa artinya?” Tanya Zach. Yang jelas mereka pasti menghadapi
kebingungan yang sama. “Percaya kan kalau ini bukan Bumi.”
“Kamu
ngomong apaan sih?” Adi mencoba menepis apa yang ada di pikiran Zach. Kliennya
ini baru dua kali naik gunung. Dia firstimer.
“Kalau
kita masih di Bumi, kenapa nggak ada sinyal?”
“Sinyal?
Anak urban kaya kamu emang ya, mikirnya semua tempat di Bumi pasti ada sinyal.
Zach, kamu paranoid.”
Zach
lalu mengambil ponselnya untuk memotret plang penunjuk jalan itu. “Buat
kenang-kenangan. Hehehe… Aku pernah beberapa kali diving, dan di tengah samudra
sekalipun, kadang-kadang masih ada sinyal.”
Selama
5 tahun menjalankan Outdoor Java, Adi mengenal betul tempat-tempat yang pernah dikunjunginya.
Dari semua gunung, hutan, pantai. Tempat ini seperti kurang publikasi, dan
seperti tidak pernah ada di internet. Kejadian tersedot frame pelangi tempo
hari memang terdengar ajaib, nyaris mustahil untuk ditarik dari sisi ilmiahnya.
Sistem telekomunikasi nirkabel yang tidak terjangkau menjadi indikasi kuat
bahwa pantai ini berada di suatu tempat yang jauh dari mana-mana. Jarang
didatangi orang. Dan bisa jadi tak berpenghuni. Tapi jika dikaitkan dengan
hal-hal yang melekat di balik nama Pasar Bubrah, walaupun tidak masuk akal, dia
pikir semuanya bisa saja terjadi.
“Terus
kita mau pilih jalan yang mana?” Zach menunjuk salah satu papan nama yang
terpasang di plang. “Yang ini menunjuk ke arah selatan ya?”
Adi
membaca tulisan putih di papan berwarna orange itu. “Tanah dan Air. Kerajaan
Manusia.” Terdengar cukup logis untuknya. Di balik makna harfiahnya, Tanah dan
Air terbayang seperti daerah pertanian luas dengan sistem irigasi yang baik. “Kerajaan
Manusia? Kita harus ke sana hanya karena kita juga manusia kan.” Dia
manggut-manggut.
“Kalau
yang ini?” Kali ini papan berwarna biru yang Zach tunjuk. Sisi meruncingnya
menunjuk ke arah barat. Alisnya seketika mengangkat penuh tanya. “Cahaya dan Langit.
Kastil Malaikat. Ini artinya apa ya?”
Plang
penunjuk jalan ini pasti hanya untuk main-main. Dibuat oleh seniman iseng yang
bisa jadi mereka hanya ingin cari-cari sensasi saja. Kedua orang itu lalu
memutari plang itu yang berupa tiang yang terbuat dari segelondong kayu
setinggi manusia, yang disetiap arah mata angin dipasangi papan-papan, yang
menunjuk ke sebuah tempat yang nama tempat itupun aneh-aneh. Sudah pasti ini
kerjaan orang yang tidak punya kerjaan.
Mereka
membaca 3 papan nama yang tersisa.
Satu
papan berwarna hitam, tulisannya pun juga berwarna hitam membuatnya susah untuk
dibaca, namun masih bisa terbaca oleh mereka. Tertulis ‘Kabut dan Samudra.
Istana Iblis’ yang menunjuk ke arah utara.
Satu
papan yang menunjuk arah timur bernama ‘Akar dan Daun. Desa Monster’ berwarna
hijau muda.
“Kalau
yang ini?” Adi berhenti pada papan yang terakhir. Berwarna putih. “jelas kita
tidak mungkin ke sana kan.”
Zach
mendekat dan melihat papan putih itu dengan skeptis. Papan yang ini menunjuk ke
atas dan tidak ada tulisan apa-apa. Dia mendongak ke atas. “Arahnya ke langit.
Mungkin ‘Singgasana Tuhan? Surga?”
Jelas
Zach hanya bergurau. Adi tertawa saja mendengarnya. “Semua papan menunjuk ke
empat arah mata angin utama, plus ke atas…” Mereka saling tatap. Adi tahu
mereka pasti berpikir sama.
“…Berarti
ada juga yang menunjuk ke bawah.” Zach kembali berputar untuk memastikan tidak
ada papan yang terlewat. Tapi setelah dihitung, jumlahnya sama dan tidak ada
papan yang menunjuk ke bawah.
“Bukan
ditulis di papan.” Kata Adi yang sudah berjongkok. “Tapi diukir.”
Ada
sesuatu yang membuat mereka bergidik. Adi merinding seketika saat satu kata
yang ada, yang diukir di bagian plang penunjuk jalan ini. Dibawah gambar anak
panah yang menunjuk ke bawah, terbaca jelas olehnya_Bumi.
“Omong
kosong.”
Zach
terkekeh puas melihatnya. “Apa kubilang. Tidak ada sinyal berarti tidak di
Bumi.”
Lalu
tiba-tiba.
“Apa
yang sedang kalian lakukan? Para manusia.”
Adi
dan Zach terloncat dari tempatnya. Tepat dihadapannya seekor burung tiba-tiba
bertengger di salah satu papan. Berbicara. Bertanya.
“Apa
yang kalian lakukan di tempat ini?” Sekali lagi burung itu bertanya.
Karena
sering melihat National Geographic di Youtube, Adi tahu burung apa itu. Dengan
paruhnya yang besar berwarna gading, sudah pasti itu burung enggak. Yang
mengherankan adalah, bagaimana bisa dia berbicara? Pakai bahasa Indonesia lagi.
Sekali
lagi si Burung Enggak bertanya. “Apa yang kalian cari di tempat ini?”
Zach
lebih terlihat takjub daripada takut. Mungkin karena dia pikir burung ini lucu
dan nampak tidak mengancam, dan paruh melengkung yang besar itu menandakan dia
bukan karnivora. “Kamu bisa ngomong? Eeehh…Maksudku…Eeehh…Kog bisa sih?”
Melihat
gelagat keduanya, si Burung Enggak merasa ada yang aneh dengan dua manusia ini.
Dia memutar-mutar kepalanya. Clingukan atas-bawah. Kanan-kiri. Satu orang
berkulit putih, seorang lagi kecoklatan. Seingatnya, baru kali ini dia melihat
manusia berpakaian seperti itu. “Aku
mengerti.” Kepalanya mangguk-mangguk.
“Kamu
ngerti apa?” Sahut Zach yang jelas tidak paham dengan apa yang burung ini
katakan. “Kamu ini apa sih? Atau siapa?”
“Mereka
benar-benar sudah membukanya.”
“Membuka
apa?” Zach menuntut semua hal ajaib yang menimpanya.
“Mereka
siapa?” Sahut Adi.
Burung
itu seperti tidak menggubris mereka berdua. Dia berlagak seperti sedang
berbicara pada dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan dari Adi dan Zach hanya
menggantung di udara. “Memang menunjukkan suatu progres,” Sambungnya sembari
berloncat-loncatan, berpindah dari papan satu ke papan lainnya. “Mereka sudah
menyusup ke dalam 3 kerajaan. Hem….Hem….”
Adi
dan Zach hanya saling pandang.
Kesal
juga rasanya melihat si Burung Enggak itu mondar-mandir. Ingin rasanya
menangkap burung itu dan memaksanya untuk menjawab. Tapi sebelum Zach beraksi,
tangan Adi lebih dulu menyambar si Burung. Lalu mengempitnya karena
meronta-ronta.
“Diam!”
Bentak Adi. “Bicara yang benar! Katakan! Sekarang ini kita ada dimana?”
Si
Burung Enggak terus meronta. “Lepaskan aku! Lepaskan!”
“Mereka
itu siapa? Mereka membuka apa?”
Lalu
si Burung berhenti. Ditatapnya Adi dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Intonasi dan emosinya juga tidak terbaca. “Mereka,” katanya akhirnya. Ditunjuknya
lautan di arah utara dengan sayapnya. “Pasukan Iblis. Mereka telah berhasil
mempengaruhi raja para manusia. Mereka akan merebut kembali…Bumi kalian.”
Adi
dan Zach bergidik.
Burung
itu sadar, dua orang di hadapannya sudah pasti datang dari Bumi dan dia tidak
mungkin keliru. “Oh…Tidak. Kalian juga tidak akan bisa pergi dari sini.”
Tidak
ada yang mereka berdua pahami dari apa yang burung ini katakan. Dia masih
asing, dan mendengar kata Bumi disebut-sebut, mereka harus berhati-hati.
Kejutan demi kejutan yang mereka berdua alami telah memberi gambaran bahwa
tempat ini begitu ajaib. Portal pelangi. Burung yang bisa berbicara. Dan
berbagai keanehan lainnya, membuat mereka harus waspada terhadap apapun.
Terhadap siapapun.
Ada
perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba hadir.
“Aku
tahu…Aku tahu. Ikuti aku!” Dengan sekali manufer, Burung itu berhasil lepas
dari dekapan Adi dan langsung terbang, masuk ke dalam rimbunnya hutan pohon
kelapa ke arah selatan. “Cepat! Ikut aku!”
“Mau
kemana? Hey…” Adi mengejar Zach yang berlari menuju carrier.
“Kemana
lagi?” Jawab Zach.
“Kamu
bisa percaya?”
Zach
mengambil carriernya dan langsung mengejar si Burung Enggak ke dalam hutan “Aku
berani sumpah, ini bukan Bumi.” Teriaknya sambil berlari.
Tidak
ada alasan lain untuk tetap tinggal. Adi terpaksa mengekor keduanya di
belakang.
.....berlanjut.....