DUA
Dome
itu berwarna orange menyala, berdiri kokoh di balik sebongkah batu vulkanik
setinggi kira-kira 2 meter. Melindungi mereka dari kuatnya badai angin yang
berkecambuk.
Dari
tadi, Zach merasakan posisi tidurnya bergeser terus, membuatnya terjaga
sepanjang malam. Yang terus dilihatnya hanyalah lampu senter yang
bergoyang-goyang di atas kepalanya. Ini
badai kapan berhenti sih? Pikirnya. Matanya terpaku pada titik temu kedua
bilah frame yang saling menyilang
tepat dimana lampu senter itu tergantung.
Zach
mengecek G-Shock di pergelangan tangan kirinya. Jadwalnya lewat.
Dia
ingin membangunkan Adi yang ternyata tak mempan pakai alaram, sudah 15 menit
lewat dari jadwal. Seharusnya mereka sekarang ini sudah harus trecking untuk mengejar matari terbit di
puncak Garuda, tapi mendengar raungan badai yang tak kunjung henti, sepertinya
Zach harus merelakan itu semua. Semalaman tidak bisa tidur membuatnya malas.
Akhirnya
dia meraih ransel dan dia keluarkan semua isi yang ada di dalam.
Itu
adalah tas mungil berisi perkakas macam timbangan digital portabel, setoples
biji kopi, dan seperangkat alat penyeduh seharga jutaan rupiah bernama cafflano berwarna abu-abu. Juga termos
kecil hadiah dari bosnya di Australia.
Sembari
menggiling biji-biji kopi di pangkuan, Zach melirik Adi yang menggeliat dari sleeping bag. “Jadwalnya lewat.” Katanya
menyambut. “Badainya nggak berhenti-berhenti dari tadi. Kita nggak usah
buru-buru muncak, nggak ada sunrise juga nggak apa-apa Mas. Sana balik tidur!”
Kemudian
Adi duduk. Yang dirasakannya pertama kali adalah tubuhnya tergoyang ke samping.
Awalnya dia kira kalau badannya masih limbung efek tidur singkatnya yang kurang
begitu nyenyak. Tapi pergeseran itu datang lagi, tidak hanya dirinya tapi juga
dirasakan Zach. Cafflano itu terlepas dan biji-biji kopi berserakan di atas
matras.
“Dari
tadi gini terus.” Kata Zach menatapnya. “Kaya gempa. Apa emang gempa ya?”
Keduanya
saling menatap curiga.
Adi
mulai merasa ada yang tidak beres.
…..
Travolta
mengamati setiap bilik dengan seksama. Tangan kirinya yang memegang lentera
minyak mulai terasa pegal, sementara telunjuk tangan kanannya terus mengulur
dari buku ke buku. Kedua matanya harus berjuang menahan kantuk efek cahaya
temaram dan aroma buku tua yang berdebu.
“Sial.”
Gerutunya. Walaupun diucap sepelan mungkin, suaranya menggema ke seluruh
ruangan.
Sejenak
dia meletakkan lentera itu di atas meja, lantas berjalan menuju jendela. Landscape kota terlihat begitu
menakjubkan dari ketinggian. Bintik-bintik cahaya di balik kaca yang buram yang
berdebu selalu memanjakan matanya yang sayup, yang lelah setelah semalaman
berkutat dengan ruangan besar, gelap, pengap, sunyi, berdebu, dan terlarang
ini. Dibukanya jendela itu. Seketika angin menerpa wajahnya yang muram, bersemu
dengan cahaya purnama yang sesekali mengintip di balik gumpalan mendung di
langit.
Dimana lagi harus kucari Bisiknya pada diri sendiri. Seumur hidup, baru kali
ini dia harus mengendap-endap pergi sendirian di dalam istananya. Ruangan yang
luas ini, dipenuhi berbaris-baris rak bertingkat-tingkat yang berjejeran
membentuk lorong-lorong sempit bagai lambirin. Walaupun berada di dalam jantung
Kerajaan Selatan, perpustakaan adalah dunia yang asing untuk seorang pangeran Travolta.
Dia
membuang wajahnya dari pemandangan itu, kembali fokus pada pencariannya. Dengan
cahaya lentera yang minim, dilihatnya dalam cahaya temaram, rak-rak buku yang
belum ditelusurinya. Ya Tuhan. Seketika
itu juga ototnya melemas.
Sejenak
dia merasa pening. Akhir-akhir ini, kehidupan Travolta mendadak kacau. Apa yang malaikat itu katakan?
Pening
itu semakin menusuk saat gelombang ingatan datang menyerbu. Ditariknya kursi
kayu tua untuk duduk. Sepotong adegan melintas di otaknya, 14 hari yang lalu.
“Raja
menyembunyikan kebenaran.” Kata seorang malaikat. Yang waktu itu, entak
bagaimana caranya dapat masuk ke dalam kamar Travolta yang terkunci dari dalam.
“Kamu harus menemukannya. Sesuatu yang tersembunyi di dalam perpustakaan.”
“Aku
tidak mengerti. Apa yang kamu katakan?” Jawab Travolta kebingungan. Matanya
mempelajari setiap inci sosok ini. Manusia setinggi 2 meter dengan dua pasang
sayap kecoklatan. “Kamu…Siapa?”
“Sudah
lewat seminggu sejak hari kelahiranmu yang ke-25.” Jawab malaikat itu, yang
tidak sedikitpun menggubris kata-kata Travolta. Siapa dirinya? Sama sekali
tidak penting. “Sudah waktunya untukmu tahu semua kebenarannya.”
“Kamu
siapa?” Tidak terima pertanyaannya tidak dijawab, Travolta yang masih bingung
dengan kedatangan malaikat ini jadi naik pitam. Dia ini pangeran dan ini
rumahnya. Kali ini dia membentak. “Apa yang kamu bicarakan?”
Sejenak
malaikat itu terdiam, memberi sedikit waktu untuk Travolta agar bisa fokus pada
informasi penting yang ingin dia sampaikan selanjutnya. Dia bisa pahami bahwa
tidak mudah bagi Travolta yang buta untuk bisa menerima kebenaran yang
disampaikannya. Bahwa selama bertahun-tahun Dewan Kerajaan bekerja di bawah
skandal yang mengerikan. Sejenak dia menghela napas.
Travolta
masih menatapnya. Menantang.
“Kamu
berhak atas Kerajaan Selatan wahai putra raja Amoro. Tanah dan Air adalah
tahtamu.”
Mendadak
jantung Travolta terhujam keras oleh kata-kata itu. Dia ini siapa? Apa yang dia
katakan? Di tengah perasaan dan emosi yang campur aduk di dalam dirinya,
Travolta yang masih di atas kasur langsung menyamber pedang yang menggeletak di
meja di bawah lampu tidur. “Jangan main-main denganku! Jangan pernah sekalipun
menyinggung ayahku!” Bilah pedangnya yang tajam menempel di leher si malaikat.
Matanya membara dibakar amarah. Travolta tidak mau ada seseorang yang
menyebut-nyebut nama ayahnya. “Jangan campuri Kerajaan Selatan! Sekarang
katakan! Kamu siapa?” Kalimatnya tegas dan tajam. Begitu juga dengan sorot
matanya. “Mau apa?”
“Kamu
sudah cukup terlambat Pangeran.” Sedikitpun malaikat itu tidak bergeming. Mata
beradu mata. Dingin terasa di kulit yang menandakan bahwa pedang itu sudah
benar-benar menempel di lehernya. Salah gerak, kepala bisa putus.
Travolta
menunggu.
“Kerajaan
iblis di utara sudah memulainya bertahun-tahun yang lalu. Sisi Bumi dalam
bahaya yang nyata. Kabut kehancuran sudah bergerak ke seluruh penjuru mata
angin. Kekuatan gelap telah bangkit, menyusup ke dalam istana-istana ketiga
kerajaan. Ambil kembali tahtamu! Mungkin hanya kamu yang bisa menghentikannya.”
Ambil kembali tahtaku? Memori tak terduga menyerangnya. 15 tahun yang lalu,
raja ditemukan meninggal di dalam perpustakaan. Keadaannya miris cenderung
mengerikan. Dengan belati, Raja memotong tangannya sendiri. 14 hari kemudian
Travolta menyaksikan pamannya dimahkotai sebagai penerus tahta Kerajaan
Selatan. Tahtaku diambil paman?
Malaikat itu benar. Menurut hukum kerajaan manusia yang dia tahu, dialah
pewaris sah Tanah dan Air.
“Tapi
aku masih 10 tahun.” Travolta mencoba menyangkal. Tidak mungkin bocah ingusan
bisa menjadi raja.
“Mereka
menyembunyikan banyak hal, Pangeran. Kamu harus tahu itu.”
“Mustahil.”
Dengan teriakan penuh emosi, pangeran muda itu menarik pedangnya, menggorok
leher si malaikat. “Pergi…” Tariaknya lantang.
Tapi
pedang itu hanya lewat. Tubuh si malaikat berlahan-lahan menghilang seperti
hantu yang semakin lama semakin transparan. Sekalimat terucap sebelum malaikat
itu benar-benar lenyap dari pandangan Travolta. “Mereka membutakanmu.
Ketahuilah apa yang seharusnya kamu ketahui.”
Sejak
kejadian malam itu sampai saat ini, selepas tengah malam dia mengendap-endap
keluar kamar, menelusuri koridor demi koridor menuju ke sebuah tempat paling
terisolasi di dalam istana. Perpustakaan berhantu yang menurut malaikat itu ada
sesuatu tersembunyi di sana.
Kini
ingatan itu sudah pergi bebarengan dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu
saja datang. Ini seperti teka-teki yang harus segera dipecahkan. Tentang benda
apa yang harus ditemukan dan apakan semua ini ada kaitannya dengan kematian
ayahnya. Raja Amoro. Juga tentang tahta Kerajaan Selatan dan para iblis yang sudah
menyusup ke kerajaan-kerajaan di Sisi Bumi.
Sejak
malaikat itu datang, hidupnya tak lagi tenang.
Sangat
melelahkan bagi Travolta yang setiap tengah malam harus meneliti lemari-lemari
penyimpanan yang ada di sini. Yang ditemukannya hanyalah pedang-pedang
berkarat, zirah rusak, mendali-mendali perunggu. Buku-buku berdebu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar