Jumat, 05 November 2021


 DUA

Dome itu berwarna orange menyala, berdiri kokoh di balik sebongkah batu vulkanik setinggi kira-kira 2 meter. Melindungi mereka dari kuatnya badai angin yang berkecambuk.

Dari tadi, Zach merasakan posisi tidurnya bergeser terus, membuatnya terjaga sepanjang malam. Yang terus dilihatnya hanyalah lampu senter yang bergoyang-goyang di atas kepalanya. Ini badai kapan berhenti sih? Pikirnya. Matanya terpaku pada titik temu kedua bilah frame yang saling menyilang tepat dimana lampu senter itu tergantung.

Zach mengecek G-Shock di pergelangan tangan kirinya. Jadwalnya lewat.

Dia ingin membangunkan Adi yang ternyata tak mempan pakai alaram, sudah 15 menit lewat dari jadwal. Seharusnya mereka sekarang ini sudah harus trecking untuk mengejar matari terbit di puncak Garuda, tapi mendengar raungan badai yang tak kunjung henti, sepertinya Zach harus merelakan itu semua. Semalaman tidak bisa tidur membuatnya malas.

Akhirnya dia meraih ransel dan dia keluarkan semua isi yang ada di dalam.

Itu adalah tas mungil berisi perkakas macam timbangan digital portabel, setoples biji kopi, dan seperangkat alat penyeduh seharga jutaan rupiah bernama cafflano berwarna abu-abu. Juga termos kecil hadiah dari bosnya di Australia.

Sembari menggiling biji-biji kopi di pangkuan, Zach melirik Adi yang menggeliat dari sleeping bag. “Jadwalnya lewat.” Katanya menyambut. “Badainya nggak berhenti-berhenti dari tadi. Kita nggak usah buru-buru muncak, nggak ada sunrise juga nggak apa-apa Mas. Sana balik tidur!”

Kemudian Adi duduk. Yang dirasakannya pertama kali adalah tubuhnya tergoyang ke samping. Awalnya dia kira kalau badannya masih limbung efek tidur singkatnya yang kurang begitu nyenyak. Tapi pergeseran itu datang lagi, tidak hanya dirinya tapi juga dirasakan Zach. Cafflano itu terlepas dan biji-biji kopi berserakan di atas matras.

“Dari tadi gini terus.” Kata Zach menatapnya. “Kaya gempa. Apa emang gempa ya?”

Keduanya saling menatap curiga.

Adi mulai merasa ada yang tidak beres.

…..

Travolta mengamati setiap bilik dengan seksama. Tangan kirinya yang memegang lentera minyak mulai terasa pegal, sementara telunjuk tangan kanannya terus mengulur dari buku ke buku. Kedua matanya harus berjuang menahan kantuk efek cahaya temaram dan aroma buku tua yang berdebu.

“Sial.” Gerutunya. Walaupun diucap sepelan mungkin, suaranya menggema ke seluruh ruangan.

Sejenak dia meletakkan lentera itu di atas meja, lantas berjalan menuju jendela. Landscape kota terlihat begitu menakjubkan dari ketinggian. Bintik-bintik cahaya di balik kaca yang buram yang berdebu selalu memanjakan matanya yang sayup, yang lelah setelah semalaman berkutat dengan ruangan besar, gelap, pengap, sunyi, berdebu, dan terlarang ini. Dibukanya jendela itu. Seketika angin menerpa wajahnya yang muram, bersemu dengan cahaya purnama yang sesekali mengintip di balik gumpalan mendung di langit.

Dimana lagi harus kucari Bisiknya pada diri sendiri. Seumur hidup, baru kali ini dia harus mengendap-endap pergi sendirian di dalam istananya. Ruangan yang luas ini, dipenuhi berbaris-baris rak bertingkat-tingkat yang berjejeran membentuk lorong-lorong sempit bagai lambirin. Walaupun berada di dalam jantung Kerajaan Selatan, perpustakaan adalah dunia yang asing untuk seorang pangeran Travolta.

Dia membuang wajahnya dari pemandangan itu, kembali fokus pada pencariannya. Dengan cahaya lentera yang minim, dilihatnya dalam cahaya temaram, rak-rak buku yang belum ditelusurinya. Ya Tuhan. Seketika itu juga ototnya melemas.

Sejenak dia merasa pening. Akhir-akhir ini, kehidupan Travolta mendadak kacau. Apa yang malaikat itu katakan?

Pening itu semakin menusuk saat gelombang ingatan datang menyerbu. Ditariknya kursi kayu tua untuk duduk. Sepotong adegan melintas di otaknya, 14 hari yang lalu.

“Raja menyembunyikan kebenaran.” Kata seorang malaikat. Yang waktu itu, entak bagaimana caranya dapat masuk ke dalam kamar Travolta yang terkunci dari dalam. “Kamu harus menemukannya. Sesuatu yang tersembunyi di dalam perpustakaan.”

“Aku tidak mengerti. Apa yang kamu katakan?” Jawab Travolta kebingungan. Matanya mempelajari setiap inci sosok ini. Manusia setinggi 2 meter dengan dua pasang sayap kecoklatan. “Kamu…Siapa?”

“Sudah lewat seminggu sejak hari kelahiranmu yang ke-25.” Jawab malaikat itu, yang tidak sedikitpun menggubris kata-kata Travolta. Siapa dirinya? Sama sekali tidak penting. “Sudah waktunya untukmu tahu semua kebenarannya.”

“Kamu siapa?” Tidak terima pertanyaannya tidak dijawab, Travolta yang masih bingung dengan kedatangan malaikat ini jadi naik pitam. Dia ini pangeran dan ini rumahnya. Kali ini dia membentak. “Apa yang kamu bicarakan?”

Sejenak malaikat itu terdiam, memberi sedikit waktu untuk Travolta agar bisa fokus pada informasi penting yang ingin dia sampaikan selanjutnya. Dia bisa pahami bahwa tidak mudah bagi Travolta yang buta untuk bisa menerima kebenaran yang disampaikannya. Bahwa selama bertahun-tahun Dewan Kerajaan bekerja di bawah skandal yang mengerikan. Sejenak dia menghela napas.

Travolta masih menatapnya. Menantang.

“Kamu berhak atas Kerajaan Selatan wahai putra raja Amoro. Tanah dan Air adalah tahtamu.”

Mendadak jantung Travolta terhujam keras oleh kata-kata itu. Dia ini siapa? Apa yang dia katakan? Di tengah perasaan dan emosi yang campur aduk di dalam dirinya, Travolta yang masih di atas kasur langsung menyamber pedang yang menggeletak di meja di bawah lampu tidur. “Jangan main-main denganku! Jangan pernah sekalipun menyinggung ayahku!” Bilah pedangnya yang tajam menempel di leher si malaikat. Matanya membara dibakar amarah. Travolta tidak mau ada seseorang yang menyebut-nyebut nama ayahnya. “Jangan campuri Kerajaan Selatan! Sekarang katakan! Kamu siapa?” Kalimatnya tegas dan tajam. Begitu juga dengan sorot matanya. “Mau apa?”

“Kamu sudah cukup terlambat Pangeran.” Sedikitpun malaikat itu tidak bergeming. Mata beradu mata. Dingin terasa di kulit yang menandakan bahwa pedang itu sudah benar-benar menempel di lehernya. Salah gerak, kepala bisa putus.

Travolta menunggu.

“Kerajaan iblis di utara sudah memulainya bertahun-tahun yang lalu. Sisi Bumi dalam bahaya yang nyata. Kabut kehancuran sudah bergerak ke seluruh penjuru mata angin. Kekuatan gelap telah bangkit, menyusup ke dalam istana-istana ketiga kerajaan. Ambil kembali tahtamu! Mungkin hanya kamu yang bisa menghentikannya.”

Ambil kembali tahtaku? Memori tak terduga menyerangnya. 15 tahun yang lalu, raja ditemukan meninggal di dalam perpustakaan. Keadaannya miris cenderung mengerikan. Dengan belati, Raja memotong tangannya sendiri. 14 hari kemudian Travolta menyaksikan pamannya dimahkotai sebagai penerus tahta Kerajaan Selatan. Tahtaku diambil paman? Malaikat itu benar. Menurut hukum kerajaan manusia yang dia tahu, dialah pewaris sah Tanah dan Air.

“Tapi aku masih 10 tahun.” Travolta mencoba menyangkal. Tidak mungkin bocah ingusan bisa menjadi raja.

“Mereka menyembunyikan banyak hal, Pangeran. Kamu harus tahu itu.”

“Mustahil.” Dengan teriakan penuh emosi, pangeran muda itu menarik pedangnya, menggorok leher si malaikat. “Pergi…” Tariaknya lantang.

Tapi pedang itu hanya lewat. Tubuh si malaikat berlahan-lahan menghilang seperti hantu yang semakin lama semakin transparan. Sekalimat terucap sebelum malaikat itu benar-benar lenyap dari pandangan Travolta. “Mereka membutakanmu. Ketahuilah apa yang seharusnya kamu ketahui.”

Sejak kejadian malam itu sampai saat ini, selepas tengah malam dia mengendap-endap keluar kamar, menelusuri koridor demi koridor menuju ke sebuah tempat paling terisolasi di dalam istana. Perpustakaan berhantu yang menurut malaikat itu ada sesuatu tersembunyi di sana.

Kini ingatan itu sudah pergi bebarengan dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu saja datang. Ini seperti teka-teki yang harus segera dipecahkan. Tentang benda apa yang harus ditemukan dan apakan semua ini ada kaitannya dengan kematian ayahnya. Raja Amoro. Juga tentang tahta Kerajaan Selatan dan para iblis yang sudah menyusup ke kerajaan-kerajaan di Sisi Bumi.

Sejak malaikat itu datang, hidupnya tak lagi tenang.

Sangat melelahkan bagi Travolta yang setiap tengah malam harus meneliti lemari-lemari penyimpanan yang ada di sini. Yang ditemukannya hanyalah pedang-pedang berkarat, zirah rusak, mendali-mendali perunggu. Buku-buku berdebu.

Ketahuilah apa yang seharusnya kamu ketahui. Kata-kata si malaikat berputar-putar di kepalanya. Bergegas dia bangkit dan menyamber lenteranya. Pencariannya, biarpun panjang dan melelahkan, harus dilanjutkan sampai dia tahu kebenaran apa yang telah mereka sembunyikan darinya
        .....berlanjut.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar