Selasa, 02 November 2021


 

SATU

Kabut membalut seluruh area yang mampu ditangkap mata Zach. Susah payah pria itu harus terus berjalan menanjak menuju ke area perkemahan untuk mendirikan tenda. Udara dingin memaksanya untuk terus bergerak. Sementara itu, telapak tangan dan kupingnya terasa beku. Camp terakhir itu diberi nama Pasar Bubrah. Yang katanya, karena area luas berpasir dengan batu-batuan cadas raksasa itu menjadi titik temu aneka macam mahluk yang tak kasat mata.

Diselingi bau belerang, untuk yang ke banyak kalinya Zach terpeleset. Tapi Zach menikmatinya. Lepas dari kabut tebal dan angin yang menderu kencang, Merapi adalah pilihan yang tepat. Bergegas dia bangkit dan berjalan lagi.

Adi menyapukan senternya ke belakang, tepat ke arah tubuh Zach yang mulai berjalan. “Setengah jam lagi.” Teriaknya. Angin menderu-deru dan jarak pandang mereka terbatas. “Jangan sampai hilang! Cuma kita berdua yang ada di sini.”

Zach mengangkat pandangannya, headlamp itu menyorot wajah Adi, memberikan efek sensor yang menyilaukan. Dari cahaya dramatis itu, Dia bisa melihat helaan napas dari mulut dan hidungnya yang meninggalkan jejak panas tubuh yang menguap. Dia melangkah merapatkan jarak. “Aku tahu hari senin selalu dibenci orang.”

Bulan Agustus di Indonesia sudah jarang-jarang turun hujan. Ini musim peralihan. Pancaroba. Hujan memang selalu menjadi salah satu hal yang tidak disukai jika ingin mendaki gunung. Tapi musim yang sekarang, barangkali inilah musim yang terganas di negara ini. Pancaroba sama artinya dengan musim bencana alam. Di tempat lain bisa saja kering, tapi di waktu yang sama di zona waktu yang berbeda bisa saja banjir.

“Perlu istirahat, nggak?” Tanya Adi.

Zach mengangguk. Napasnya tanggal-tanggal.

“Aku lebih suka kehujanan daripada keanginan” Celetuk Adi sambil menyodorkan botol airnya.

“Kalau anginnya kaya gini sih namanya badai.”

“Hehehe…Iya.” Jawab Adi sekenanya. “Tapi buat seorang firstimer, kamu nggak terlalu rewel dan itu cukup meringankan kerjaanku. Lagian ini bukan badai pertamaku di Merapi.”

“Firstimer?” Zach mencoba mengelak. “Kalau kamu perlu tahu, minggu lalu aku habis turun dari Prau lho. Nggak bisa dibilang firstimer dong.”

“Kan sudah dibilangin, Prau sama Merapi itu beda jauh.”

“Ya kan kata internet, kalau mau jadi pendaki, latihannya di Prau dulu baru ke gunung-gunung lainnya. Gitu kan?” Zach mengembalikan botol itu dan mereka lantas berjalan kembali. Tapi kalau dipikir-pikir, omongan Adi ada benarnya. Dilihat dari apa yang didapatkannya di Prau, yang dihadapinya di Merapi adalah lipat tiga dari semua kategori yang ada. Panjang trek, vegetasi, suhu, altitude.

“Lagian,” tambah Adi. “Indonesia itu anomali. Lihat saja Merapi dan Merbabu yang sebelahan, sudah beda banget karakteristiknya.”

Terus saja mereka berjalan sejengkal-sejengkal untuk mengusir kantuk dan dingin yang sendari tadi menyerang. Sebagai seorang klien, di sepanjang perjalanan ini Zach sanggup mengikuti semua intruksi dan opsi yang Adi berikan dengan baik. Semenjak di Basecamp New Selo, Adi tak henti-hentinya mengatakan kalau nanti, mereka kemungkinan akan dihadang badai. Prediksinya jarang meleset.

“Kalau sedang tidak berkabut begini, ini tempat favoritku beristirahat.” Adi berhenti, menunjuk jauh ke bawah, tapi pandangannya mentok hanya beberapa meter ke depan. Kabut ini terlalu tebal. “Kita bisa lihat lampu-lampu kota dari sini.”

“Pasti keren banget ya. Lagi apes kita.”

“Cuaca memang nggak bisa diprediksi kalau lagi di tempat beginian.” Kata Adi yang memejam lama. “Sama kaya hidup, nggak bisa diprediksi.” Pikirannya tiba-tiba melayang, di tempat ini 10 tahun yang lalu, yang telah merubah banyak aspek kehidupan seorang Adi Prakoso. Saat itu dia berusia 20 tahun, bekerja sebagai administrator di sebuah toko komputer, untuk yang pertama kalinya melihat gumpalan awan terarak di bawah kakinya. Deruan-deruan angin yang beku yang menusuk, digantikan dengan hangatnya cahaya kemeas-emasan yang naik perlahan dari bawah horizon yang membentang luas, yang melenyapkan bintang-bintang dan bulan sabit di angkasa, menghipnotisnya. Memberinya candu akan petualangan.

Ketika memutuskan untuk resign 5 tahun yang lalu, Adi tahu kemana hidup akan menuntunnya. Berbakal bahasa Inggris pas-pasan, dia menempuh satu setengah jam perjalanan kereta Solo-Jogja setiap Jum’at. Dengan setumpuk brosur lipat tiga buatan sendiri, dia gigih mondar-mandir di pinggiran Malioboro yang tak pernah sepi untuk membagikannya pada turis-turis. Lokal maupun asing. Rombongan study tour sampai solo backpacker.

Menempelkan brosurnya di angkringan-angkringan.

Meninggalkannya setumpuk di meja kasir rumah makan Padang.

Membayar dua puluh ribu rupiah pada tukang becak dan tukang parkir untuk dijadikan sales promotor dadakan.

Pada Jum’at kesembilan usahanya membuahkan harapan. Di perjalanan pulang di dalam kereta, ponselnya tiba-tiba bergetar.

I got your paper.

Take me there!

When? We can meet to strat to see that sun rise?

Pesan itu singkat, tapi sudah cukup untuknya mengembangkan senyum di wajah. Klien pertama.

5 tahun berselang. Kini dia bahkan tidak harus lagi menyewa mobil untuk memberangkatkan turis-turis haus penjelajahan yang datang dari berbagai belahan dunia. sekarang ini, untuk yang kebanyak kalinya, dia memberhentikan kliennya di titik ini, di titik dimana Adi, 10 tahun yang lalu, untuk yang pertama kalinya mengaku bahwa dia telah jatuh cinta pada alam.

Zach yang melihat ada sedikit jeda karena dia tahu Adi sedang melamun, merogoh saku jaketnya dan langsung memberikannya pada Adi. “Ini dari bosku di Ausie.” Katanya mengulurkan tangan. “Dia tahu aku ambil cuti buat pulang ke Indonesia. Perjalanan ini, murni rekomendasinya. Kalau nggak karena brosur ini, mungkin aku sudah ke Toraja beli kopi atau ke Labuan Bajo lihat komodo.”

Brosur lecek itu diterima Adi dengan senyum yang tidak mungkin disembunyikannya, juga tidak ada alasan untuk menyembunyikannya. Adi masih sangat ingat ketika kliennya yang pertama itu, yang kebetulan adalah bos dari kliennya yang sekarang, menghubunginya dan minta diantar ke Merapi untuk foto matahari terbit yang tercetak di dalam brosur. Semua yang ada di brosur itu mengingatkannya pada proses tiada lelah. Pada kerja tiada henti “Sudah lama banget. Ini brosur pertamaku.” Katanya berbinar. Tidak mungkin dia lupakan segala kenangan tentang Anton dan Stevani yang mereka lalui sebagai tourguide abal-abal dan sepasang pengantin baru yang kepincut foto matahari terbit di dalam brosur.

Dari merekalah klien-klien mulai berdatangan. Awalnya dari mulut ke mulut, tetapi jaringan kerja Anton dan Stevani sebagai kontributor majalan travel lokal Australia telah membukakan peluang untuk Adi. Mereka menyarankannya untuk membuat blog di internet. Semakin lama, Adi semakin melek media sosial. Blog, Friendster, Facebook, Wix, Tumblr. Semuanya dia coba, tetapi sejak mengenal smartphone, pilihannya berlabuh pada Instagram. Praktis dan langsung ke inti, pikirnya dulu.

.....berlanjut.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar