Sabtu, 20 November 2021


 

LIMA

Setapak itu memanjang dari pantai ke suatu tempat yang jauh. Jalan itu lurus ke depan tanpa sedikitpun berkelok, jadi ketika si Burung Enggak itu meninggalkan mereka jauh di belakang, Adi dan Zach tahu kemana arah yang mereka tuju.

“Istirahat sebentar.” Kata Adi ngos-ngosan. Dibukanya kaos basah yang menempel di tubuh karena keringat. Lebih menonjolkan warna gelap kulit yang dipanggang matahari daripada otot yang sama sekali tidak bisa dibanggakan.

Mereka duduk di antara pohon-pohon kelapa di barisan terakhir, yang menjadi batas antara hutan homogen dengan penampakan hutan dalam arti yang sesungguhnya. Yang tadi itu pastilah bukan hutan, melainkan kebun pohon kelapa. Yang sekarang menghalang di depan mata adalah hutan yang perawan.

Ada aura asing yang memanggil, yang diantara bunyi krik-krik yang beragam yang bersahutan. Sesekali teriakan elang atau alap-alap terdengar di udara.

Ada semacam energi asing yang dirasakan oleh Adi, yang membuatnya ragu untuk masuk lebih dalam.

Outdoor Java, dalam 5 tahun eksistensinya kadang-kadang harus berada jauh ke luar dari pulau Jawa yang menjadi asal-muasal penamaannya. Karena dituntut pasar, terpaksa Adi dan pegawainya harus menambahkan spot-spot diving yang jauh, hingga yang paling ekstrim_trecking berhari-hari menjelajah hutan Kalimantan. Aneka macam kegiatan luar ruangan kini memenuhi kolom di akun Instagram. Adi Prakoso, bahkan pernah tercatat sebagai relawan dalam upaya pencarian dan evakuasi korban pesawat jatuh di Pangkalan Bun. Dengan pengalaman itu, dan tanggungjawabnya atas Zach sebagai klien, hutan di depan sana memang harus diterabas. Lagi pula dia berpengalaman. Lagi pula mereka hanya harus mengikuti setapak yang lurus itu kan? Tapi energi itu, yang memanggil-manggil, membuatnya semakin ragu.

Hutan memang terlihat menenangkan, tapi sama seperti air, ketenangan sering kali menghanyutkan.

“Kita nggak perlu ragu-ragu dengan hutan itu,” kata Zach membuyarkan lamunan Adi. “Setelah portal dan Burung itu, pasti tempat ini masih menyimpan banyak hal yang ajaib-ajaib.”

“Benar katamu.” Jawab Adi tanpa sedikitpun memalingkan pandangannya pada setapak itu. “Ini bukan lagi Bumi. Ini Wonderland.”

“Kita harus menyiapkan diri.” Zach setuju. “Mulai sekarang, semua hal yang aneh-aneh jangan dianggap mistis dan jahat.”

Adi mengangguk setuju. Lagipula tidak ada pilihan lain. Tidak ada alasan kembali ke pantai. Hutan, walaupun menakutkan, menyimpan banyak makanan. Hidup mereka akan lebih terjamin di dalam sana. “Kalau begitu ayo.”

Belum jauh mereka masuk, si Burung Enggak ternyata menunggu di tengah jalan. Dia bertengger di sebuah dahan di tepian jalan setapak. “ Ayo manusia! Tidak ada waktu.” Lantas dia kembali terbang. Menuntun jalan. “Tidak ada waktu.”

Sejam.

Dua jam.

Kanopi hutan memang ampuh menahan teriknya matahari, tapi udara panas di bawahnya tidak bisa dilawan. Adi dan Zach berhenti untuk bernapas. Sendari tadi berjalan di jalan yang lurus dengan kiri-kanan yang terlihat seperti itu-itu saja, membuat perjalanan ini terasa begitu menjemukan. Diambang kebosanan dan rasa lapar, kelelahan terasa sangat nyata.

“Ayo,” Burung itu menyeru. “Tidak ada waktu.”

“Capek.” Jawab Adi kesal. “Kita butuh istirahat.”

“Sebentar lagi kita sampai. Ayo!”

Kali ini Zach yang menyahut. “Ayo…Ayo…Dari tadi.” Diambilnya sisa air dalam botol di samping carrier. Dia meneguknya beberapa kali, lalu melemparnya pada Adi. “Dari tadi kamu cuma bilang ayo-ayo doang tapi nggak sampai-sampai. Emangnya kita mau kemana sih?” Zach mulai curiga. Ini kali pertama dia ke tempat ini, dan Burung Enggak ini belum dikenalnya lama. Jika bukan karena panik, karena si Burung sempat menyinggung-nyinggung tentang Pasukan Iblis dan lain sebagainya, mungkin dia lebih memilih untuk tinggal di pantai lebih lama daripada harus berjalan jauh sekali ke tempat yang asing.

Sebagai orang yang baru pertama kali ditemuinya, Zach sudah benar jika harus menaruh curiga padanya. Lagipua dia juga bukan manusia, dan ekspresinya sama sekali tidak terbaca. Juga intonasi bicaranya. Berbicara dengan yang namanya siluman ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Tidak adanya emosi yang tersirat, wajar jika dia harus ekstra berhati-hati.

“Aku ini burung yang baik.” Kata si Burung tenang. Sekarang dia menapak di tanah, mendongak pada Zach. “ Panggil aku Binggo. Aku berasal dari Kerajaan Timur. Desa Monster.” Dengan kuku kakinya, dia mengetuk-ngetuk gelang di pergelangan kaki kanannya. “Kami menyebut tempat kami Akar dan Daun.”

Mereka melihat gelang itu. terbuat dari logam yang mungkin perak dengan ukiran sebuah lambang di bagian tengah, yang memisahkan kata Akar dan Daun.

“Ini lambang kerajaan para monster.” Katanya menjelaskan. “Kalian mengerti?”

Keduanya hanya bengong.

Binggo menunjukannya sekali lagi simbol itu dengan bangga. Sebuah gambar sederhana berupa tanaman tak berbunga yang menjuntai dari sebuah pot trapesium sama kaki.

“Dan karena kamu tidak melihat lambang kerajaan kami, kamu mengira kalau kami datang dari Bumi?” Entah apa yang dikatakannya. Tapi Adi tahu kalau kekacauan ini pasti berasa dari alasan itu. Dia dan Zach berasal dari Bumi, dan ini yang dikawatirkan Binggo. Adi menatapnya tajam.

Sementara itu Zach hanya membatin bahwa semua yang dinarasikan Binggo memang sulit dipercaya, dan mosi tidak percaya Adi harus didukung. Tapi dia masih memilih untuk diam.

“Tepat sekali.” Jawab Binggo. “Hewan dan monster hanya bisa dibedakan dengan dua cara. Kami, para monster bisa berbicara dan menggunakan lambang ini. Lagi pula, kalian tiba-tiba muncul entah dari mana setelah gempa buminya berhenti. Ini indikasi terkuatnya.”

Adi bergidik. Zach benar, di luar portal pelangi di Pasar Bubrah, dan monster imut-imut ini, keanehan-keanehan lain sudah menanti. Hanya menunggu waktu. Ini Wonderland, pikirnya. Ini Narnia. “Kamu bohong, kemarin tidak ada gempa bumi.”

“Untuk apa aku berbohong?”

Zach membatin. Ya, kemarin itu badai angin. Bukan gempa bumi.

Adi. “Bagaimana kalau kami menghilangkan tanda kerajaan kami di perjalanan.”

Binggo. “Jelas tidak mungkin.”

Adi. “Tidak mungkin bagaimana. Itu cuman gelang dan benda itu bisa saja terjatuh atau apa…”

Binggo. “…Tidak perlu berbohong, wahai anak Adam.  Manusia di Sisi Bumi tidak berpakaian aneh seperti itu. Lagipula, tato tidak mungkin bisa dihapus.”

“Tato?” Potong Zach. Dia langsung mempelajari segala keanehan yang apa pada dirinya. Pada kaos hitam di balik flannel kotak-kotaknya. Sepatu dan celana pendeknya. Carrier. Jam tangan.

Binggo meloncat dari tanah ke sebuah dahan. Kini Matanya segaris dengan Zach yang ada di depan. Berbicara dalam bisik-bisik. “Tanah dan Air selalu ditatokan. Itu cara manusia menjaga identitas mereka.” Lalu matanya memburu Adi. “Di pergelangan tangan kanan.”

Adi dan Zach terbungkam. Mereka tidak tahu apa-apa dan mereka kalah telak.

“Tanpa tato itu, kalian ilegal dan tidak akan diterima di kerajaan manapun di Sisi Bumi. Termasuk di Kerajaan Selatan, Tanah dan Air, Kerjaan Manusia.” Binggo masih terus menatap mata Adi dalam-dalam. “Kalian akan dikira pemberontak. Kalian harus tahu bahwa hukuman terberat yang berlaku di Kerajaan Selatan bukanlah eksekusi mati, melainkan dicabut kewarganegaraannya.” Binggo memberi jeda untuk mereka bisa mencerna kata-katanya. “Mereka akan dibuang dan diasingkan.”

Sebesit ide melintas di kepala Zach. “Kalau begitu kita buat saja tato palsu.” Katanya polos yang langsung dipelototi Binggo.

“Itu yang ingin aku lakukan untuk kalian.” Kini kata-kata Binggo terdengar meyakinkan untuk mereka. Binggo mulai bergerak lagi mengikuti setapak, terbang dari dahan ke dahan. Binggo seakan memberi ketegasan, siapa di sini yang lebih mengenal alam liar. Sementara itu, Adi dan Zach terpaksa mengekor di belakang. Mereka harus mengakui bahwa sebagai pendatang dari Bumi, mereka buta akan segala yang ada di sini, yang kini mereka tahu nama dari tempat yang dipenuhi dengan keanehan, sekaligus yang ajaib-ajaib_Sisi Bumi.

“Sambil kita berjalan, bisa nggak kalau kamu ceritakan lagi apa itu Sisi Bumi!” Celetuk Zach. “Kita perlu tahu lebih banyak.”

Sementara pada jarak yang sangat jauh, Pangeran Travolta terbangun dari tidur singkatnya. Matahari sudah benderang ketika sesosok malaikat muncul. Berdiri di samping kasurnya. Keempat sayapnya menghalangi sinar matahari yang masuk dari jendela, memberi Travolta pengelihatan siluet yang dramatis sedramatis kedatangannya kali ini.

“Ada perkembangan terbaru,” Kata malaikat itu. Suaranya terdengar ringan dan berbisik. Seakan suara itu hanya masuk ke telinga Travolta tanpa menyebar ke seluruh ruangan.

Siluet setinggi lebih dari dua meter itu menarik pedang di pinggangnya dengan mantap. Travolta yang masih diambang sadar dan tidur, tahu-tahu dikejutkan dengan hantaman pedang yang berkilauan karena cahaya itu. Sutra abu-abu yang dikenakannya terobek hingga ke kulit, hingga menembus jantungnya yang seketika meledak. Saat itu juga tubuh Travolta melonjak dari kasur. Badannya panas-dingin. Napasnya tanggal-tanggal. Basah oleh keringat. Tangannya segera merambat ke bagian dada. Tidak ada luka di sana. Mimpi buruk. Dia mengais napas dalam-dalam untuk memulihkan kesadarannya, membiarkan gelombang kelegaan mengisi seluruh paru-parunya.

Tapi Travolta segera sadar dengan kehadiran nyata malaikat itu yang kini berdiri, bersenderan di depan jendela yang terbuka. Menatapnya dengan tajam. “Kamu harus cepat, ini sudah sangat terlambat.” Kata-katanya langsung menyerang tanpa ada permisi.

Maliakat sialan. Travolta hanya bisa membatin. Tadi hadir di mimpi, sekarang beneran hadir.

“Namaku Bruno.” Kata si Malaikat tenang. “Ada informasi terbaru.”

“Apa lagi?” Balas Travolta dengan kata-kata yang tajam. Seakan merasa kesal karena malaikat ini selalu hadir dengan cara yang tak pernah terduga. “Tidak ada apa-apa di perpustakaan.”

“Ada sebuah benda…”

“…Sudah dua minggu.”

Tiga detik Bruno menggantungkan waktu sebelum akhirnya dia merasa perlu menjelaskan sekali lagi kepada Travolta. Pertama-tama Bruno menjelaskan bahwa dia dikirim secara khusus oleh satuan militer Armada Malaikat dari Kastil Malaikat di Kerajaan Barat yang dijuluki Langit dan Cahaya.

Kedua, poin dari kedatangannya kali ini adalah untuk menyampaikan sebuah wasiat.

“Raja Alansa mencuri tahta Kerajaan Selatan dari Raja Amoro.” Kata Bruno seraya menyerahkannya pada Travolta. Sebuah gulungan kertas yang dibelit dengan pita biru muda yang disegel dengan lilin bersimbol lambang resmi Kerajaan Barat. Simbol yang juga terdapat di dada kanan seragam yang dikenakannya.

Tangan Travolta bergetar saat menerimanya. “Apa maksudnya?”

“Itu surat yang diwasiatkan untukmu.” Bruno bisa paham dengan kebingungan yang ada pada diri Travolta. Semua yang disampaikannya sejak pertama kali datang menemui Travolta beberapa minggu yang lalu, pasti mengejutkannya. “ Kamu harus tahu bahwa tidak ada kasus bunuh diri di perpustakaan.”

Tidak ada bukti untuk membenarkan segala yang disampaikan Bruno padanya. Antara ingin menepis tapi tidak bisa, dan ingin percaya tapi tidak semudah itu, Travolta diambang perasaan yang memusingkan. Dia hanya diam tanpa ingin berkata-kata lagi.

“Bahwa Raja Alansalah yang membunuh ayahmu.”

Awan mendung seketika menguasai Travolta. Segala macam emosi teraduk di dalam hatinya.

 

Kamis, 11 November 2021


 

EMPAT

Dalam keputusasaan, Travolta menghempaskan seluruh berat badannya pada senderan kursi tua berdebu. Menggerutu. Malaikat sialan.

Sudah hampir dua minggu setiap tengah malam, dia harus melakukan semua ini dalam kerahasiaan. Diam-diam masuk ke sebuah tempat terlarang, tempat yang tersegel dari publik dengan julukan perpustakaan berhantu. Yang membuatnya pilu adalah, semua buku-buku yang tersimpan, perabot-perabot, pajangan-pajangan yang konon, menurut desas-desus yang tersebar, telah dikutuk oleh seorang hantu gentayangan bernama Amoro.

Bayangan masa lalunya muncul kembali, mengiringi cerita-certia mistis yang kini menggerayanginya dari segala sudut. Saat itu dia berusia 10 tahun, terbangun dari tidur nyenyaknya ketika suatu kegaduhan terjadi. Sejak kali pertama menenggelamkan diri ke dalam kegelapan perpustakaan ini, sosok sang ayah selalu saja hadir. Bukan dalam wujud hantu bergentayangan, melainkan potongan-potongan ingatan.

“Apa yang terjadi?” Teriak seseorang di balik pintu kamarnya.

Jawabannya berupa bisik-bisik.

Travolta kecil turun dari kasur mendekati pintu. Mengintip melalui lubang kunci.

“Di perpustakaan,” seseorang menjawab. “Semua sedang menuju ke sana.”

Terdengar derap-derap langkah kaki yang menjauh.

Bergegas bocah itu keluar kamar. Dengan piaya dan kaki telanjang, dia menguntit orang-orang yang tergesa-gesa berlarian menuju tempat yang sama.

“Dimana Travolta?” Kata seseorang.

Travolta mengenalinya. Suara itu lembut dan merdu. Tidak salah lagi, itu pamannya Alansa.

Ajudan di sisi kanannya menjawab. Masih dalam bisik-bisik. “Pintu kamarnya terkunci, Pangeran.”

“Bagus.”

Mendengar sepotong namanya disebut-sebut, Travolta merasa tidak nyaman. Entah apa dan entah mengapa, dia merasa ada dirinya yang mungkin berkaitan dengan segalanya yang gaduh malam ini. Kemudian dia berhenti, bersembunyi di dalam ceruk, di balik patung seorang pria telanjang seukuran manusia asli. Dari sini dia mengamati.

“Segera bawa ke ruang isolasi! Ikuti semua protokol, dan sekali lagi…” Tiba-tiba Alansa berbalik badan, mengunci pandangannya pada sebuah patung yang menatapnya balik dengan pandangan kosong. Dia yakin sekali kalau patung itu baru saja bergerak. Kemudian dia kembali lagi pada si ajudan. “Jangan sampai pangeran muda tahu hingga pengumuman resmi dari dewan kerajaan dirilis.”

Travolta mengutuk dirinya sendiri, yang karena kecerobohannya patung itu goyah karena tersenggol. Dia terus mengintip dari sela-sela yang terbentuk dari pose kedua kaki patung itu yang saling menyilang. Terlihat seseorang dibopong dengan tandu. Sekujur tubuh orang itu ditutupi selembar kain putih. Ada noda darah yang sepertinya, sumbernya ada pada pergelangan tangan atau luka di paha.

Alansa terlihat mencurigakan. Ada sesuatu yang mencurigakan.

Setelah memastikan orang-orang itu, yang dipimpin Alansa berada di jarak yang cukup aman, Travolta berlari ketakutan kembali ke kamarnya.

Tidak perlu gembok baja atau papan peringatan. Sejak tragedi bunuh diri itu hingga sekarang, perpustakaan terlarang dari segala macam jenis aktivitas. Mitos itu segera menyebar dengan begitu cepat_hantu raja Amoro bergentayangan setiap malam_menyegel pintu itu dengan sangat baik.

Omong kosong. Gerutu Travolta. Ayahku bukan hantu.

Segaris cahaya orange terlihat di jendela. Waktunya habis untuk hari ini. Bergegas dia menutup jendela, merapikan kursi, dan menyambar lentera itu. Lantas pergi.

…..

Mereka mendarat di pantai berpasir putih yang dipeluk erat lautan yang menenangkan. Badai itu sudah berlalu, digantikan dengan angin yang meniup sepoi-sepoi yang menyejukkan. Juga matahari pagi yang siap menyambut. Tidak ada lagi kabut yang dingin. Tidak ada lagi batu-batu raksasa di atas pasir vulkanik yang cadas.

“Badainya sudah pergi.” Dengan wajah yang sekacau itu, Zach mencoba tersenyum, siap menyambut Adi yang baru saja siuman. “Lihat mas, masih dapet sunrie kan kita. Hehehe…”

Jauh di depan mata, berlahan-lahan bulatan sempurna itu merangkak naik dari dalam laut di ujung cakrawala, menyiptakan semburat cahaya orange yang semakin melebar. Awan-awan tipis terarak.

Lautan sedang tenang-tenangnya.

Mereka tidak mencuim bau belerang, melainkan segarnya aroma garam.

Pohon-pohon kelapa.

Dengan kepala pusing dan mata masih belekkan. Sejenak Adi berpikir, badainya sekuat apa? Bisa-bisanya mereka terbawa angin sampai ke tempat ini. Mustahil untuk percaya bahwa badai kemarin mampu menerbangkannya dari Pasar Bubrah di ketinggian lebih dari 2500 meter sampai ke pantai ini dengan altitude kurang dari 1 MDPL. Segalanya menjadi terlalu ajaib untuk bisa dimasukkan akal.

“Pasar Bubrah emang seajaib itu ya?” Zach menatap Adi lama. “Kita mencelat dari gunung ke pantai. Nggak mati? Cuma lecet-lecet doang?”

,Butuh waktu untuk Adi mencerna pertanyaan itu. Dari semua pendaki yang pernah bercerita tentang hal-hal minor tentang gunung, baru kali ini pertanyaan sebegitu polosnya terlontar dari mulut seseorang. Mengesampingkan bahwa dia memang firstimer dan kurang banyak tahu soal topik-topik obrolan para pendaki. Ada fakta menggelitik bahwa Zach memilih kata ‘ajaib’ dibandingkan dengan beberapa jenis diksi yang sebenarnya lebih cocok dipakai semacam ‘angker, mistis, atau sakral.’

“Ekstraterestrial?”

Adi menggeleng. Dipilihnya istilah yang menurutnya lebih pas. “Supranatural.” Jawabnya. “Kamu tahu nggak, katamu kamu lulusan luar negeri dan kerja di Australia sudah tahunan, tapi pertanyaanmu barusan,” Adi menghela napas panjang, memilih untuk geleng-geleng daripada melanjutkannya. “Ini masalah serius Zach, jangan main-mian.”

“Habis kita bisa apa? Sudah terlanjur begini keadaannya. Hehe…”

“Selera humormu itu nggak ada lucu-lucunya.”

Zach hanya cengar-cengir. “Kalau begitu sekarang bagaimana?”

“Aku nggak tahu. Kemarin itu badai terparang yang kutemui, terus soal pelangi itu…” Sekata tiba-tiba muncul dibenaknya. Berputar-putar. “…Itu juga aku nggak tahu.”

Sekali lagi Zach menatapnya lama. “Pelangi itu…Frame itu…Portal.”

Portal? Sejenak Adi dibungkam oleh jawaban itu. Dibalik kepolosan Zach dan pembawaannya yang santai cenderung cengengesan, Adi memang harus percaya bahwa orang ini pintar. Dia lulusan luar negeri dan sudah kerja di Australia bertahun-tahun

“Mungkin ada hubungannya dengan camp terakhir waktu kita kemah.”

“Pasar Bubrah?” Adi menyipitkan matanya, Itu terdengar konyol sekaligus benar untuknya. Zach ternyata memang tidak sepolos yang dipikirkannya. “Kamu ini setengah bule tapi bisa percaya sama yang begitu-begituan.”

“Aku ini setengah Jawa, makanya aku harus percaya sama yang begitu-begituan.”

“Tapi masa iya, portal?”

“Tapi semuanya aneh kan?” Zach menuntut. Dia tahu apa yang mereka alami memang sulit dipercaya, bahkan untuk orang yang mengaku sudah mendaki Merapi belasan kali seperti Adi. Bisa saja Adi mengenal tempat itu dengan sangat baik, tapi itu dari segi fisiknya, bukan dari hal-hal minornya. Atau mungkin karena baru pertama ini Adi mengalami ‘ketiban sial’ di gunung. “Mas Adi juga dengar kan suara-suara yang kemarin? Mau ekstraterestrial, mau supranatural, kenyataannya kita emang masuk ke dalam frame pelangi itu dan…” Zach mengamati sekitar. “…Disini kita sekarang.”

“Aku baru siuman, beri waktu sebentar. Okey!”

Zach bisa mengerti, toh sendari tadi Adi terus-terusan memijat-mijat kepalanya. Proses mendaratnya mungkin lebih parah dari yang dialaminya.

Ada jeda beberapa menit sebelum Zach akhirnya mengatakan sesuatu yang sudah ditahan-tahannya dari tadi. “Mas Adi sadar nggak? Kalau mungkin, kita sedang tidak berada di Bumi.” Ditunjuknya sebuah titik di kejauhan. Terlihat ada sebuah plang penunjuk jalan “Kemarin aku mendarat di dekat situ. Kamu harus lihat!”

“Ngomong apa sih?”

Zach langsung berdiri sambil menarik tangan Adi. “Ayo! Dibilangin nggak percaya.”

Sambil mereka berjalan sambil Adi mencari-cari sebuah identitas yang mungkin dikenalinya. Pertama, mengingat jaraknya yang paling dekat dengan gunung Merapi, Adi sudah menduga mungkin tempat ini berada di daerah Gunung Kidul. Tapi pantai ini benar-benar steril dari jejak-jejak keberadaan manusia. Tidak ada perahu-perahu. Tidak ada gazebo-gazebo. Matanya terus memindai. Tidak ada sampah-sampah plastik di sepanjang mereka berjalan. Jauh di sebelah kanan, hutan pohon kelapa yang terlalu rimbun. Dia melihat 2 carrier besar saling bersender dengan rapi. “Itu kamu yang beresin?”

“Waktu kamu belum bangun, aku sudah kumpulin semua barang-barang.”

“Tendanya bagaimana?” yang terlintas di kepala Adi, jika benar tempat ini asing untuk mereka, tenda adalah kebutuhan primer untuk bertahan hidup selain perkakas untuk masak-masak. “Kompor? Gas? Nesting…”

“…Udah semua. Nesting penyok-penyok, matras tinggal satu.”

…..

Adi berdiri dengan heran. Plang penunjuk jalan seperti ini memang ada dimana-mana, sering juga dianggap second landmark suatu kota untuk kepentingan wisata. Tapi yang ini, ada berbeda.

“Gimana? Mas Adi tahu apa artinya?” Tanya Zach. Yang jelas mereka pasti menghadapi kebingungan yang sama. “Percaya kan kalau ini bukan Bumi.”

“Kamu ngomong apaan sih?” Adi mencoba menepis apa yang ada di pikiran Zach. Kliennya ini baru dua kali naik gunung. Dia firstimer.

“Kalau kita masih di Bumi, kenapa nggak ada sinyal?”

“Sinyal? Anak urban kaya kamu emang ya, mikirnya semua tempat di Bumi pasti ada sinyal. Zach, kamu paranoid.”

Zach lalu mengambil ponselnya untuk memotret plang penunjuk jalan itu. “Buat kenang-kenangan. Hehehe… Aku pernah beberapa kali diving, dan di tengah samudra sekalipun, kadang-kadang masih ada sinyal.”

Selama 5 tahun menjalankan Outdoor Java, Adi mengenal betul tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Dari semua gunung, hutan, pantai. Tempat ini seperti kurang publikasi, dan seperti tidak pernah ada di internet. Kejadian tersedot frame pelangi tempo hari memang terdengar ajaib, nyaris mustahil untuk ditarik dari sisi ilmiahnya. Sistem telekomunikasi nirkabel yang tidak terjangkau menjadi indikasi kuat bahwa pantai ini berada di suatu tempat yang jauh dari mana-mana. Jarang didatangi orang. Dan bisa jadi tak berpenghuni. Tapi jika dikaitkan dengan hal-hal yang melekat di balik nama Pasar Bubrah, walaupun tidak masuk akal, dia pikir semuanya bisa saja terjadi.

“Terus kita mau pilih jalan yang mana?” Zach menunjuk salah satu papan nama yang terpasang di plang. “Yang ini menunjuk ke arah selatan ya?”

Adi membaca tulisan putih di papan berwarna orange itu. “Tanah dan Air. Kerajaan Manusia.” Terdengar cukup logis untuknya. Di balik makna harfiahnya, Tanah dan Air terbayang seperti daerah pertanian luas dengan sistem irigasi yang baik. “Kerajaan Manusia? Kita harus ke sana hanya karena kita juga manusia kan.” Dia manggut-manggut.

“Kalau yang ini?” Kali ini papan berwarna biru yang Zach tunjuk. Sisi meruncingnya menunjuk ke arah barat. Alisnya seketika mengangkat penuh tanya. “Cahaya dan Langit. Kastil Malaikat. Ini artinya apa ya?”

Plang penunjuk jalan ini pasti hanya untuk main-main. Dibuat oleh seniman iseng yang bisa jadi mereka hanya ingin cari-cari sensasi saja. Kedua orang itu lalu memutari plang itu yang berupa tiang yang terbuat dari segelondong kayu setinggi manusia, yang disetiap arah mata angin dipasangi papan-papan, yang menunjuk ke sebuah tempat yang nama tempat itupun aneh-aneh. Sudah pasti ini kerjaan orang yang tidak punya kerjaan.

Mereka membaca 3 papan nama yang tersisa.

Satu papan berwarna hitam, tulisannya pun juga berwarna hitam membuatnya susah untuk dibaca, namun masih bisa terbaca oleh mereka. Tertulis ‘Kabut dan Samudra. Istana Iblis’ yang menunjuk ke arah utara.

Satu papan yang menunjuk arah timur bernama ‘Akar dan Daun. Desa Monster’ berwarna hijau muda.

“Kalau yang ini?” Adi berhenti pada papan yang terakhir. Berwarna putih. “jelas kita tidak mungkin ke sana kan.”

Zach mendekat dan melihat papan putih itu dengan skeptis. Papan yang ini menunjuk ke atas dan tidak ada tulisan apa-apa. Dia mendongak ke atas. “Arahnya ke langit. Mungkin ‘Singgasana Tuhan? Surga?”

Jelas Zach hanya bergurau. Adi tertawa saja mendengarnya. “Semua papan menunjuk ke empat arah mata angin utama, plus ke atas…” Mereka saling tatap. Adi tahu mereka pasti berpikir sama.

“…Berarti ada juga yang menunjuk ke bawah.” Zach kembali berputar untuk memastikan tidak ada papan yang terlewat. Tapi setelah dihitung, jumlahnya sama dan tidak ada papan yang menunjuk ke bawah.

“Bukan ditulis di papan.” Kata Adi yang sudah berjongkok. “Tapi diukir.”

Ada sesuatu yang membuat mereka bergidik. Adi merinding seketika saat satu kata yang ada, yang diukir di bagian plang penunjuk jalan ini. Dibawah gambar anak panah yang menunjuk ke bawah, terbaca jelas olehnya_Bumi.

“Omong kosong.”

Zach terkekeh puas melihatnya. “Apa kubilang. Tidak ada sinyal berarti tidak di Bumi.”

Lalu tiba-tiba.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Para manusia.”

Adi dan Zach terloncat dari tempatnya. Tepat dihadapannya seekor burung tiba-tiba bertengger di salah satu papan. Berbicara. Bertanya.

“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?” Sekali lagi burung itu bertanya.

Karena sering melihat National Geographic di Youtube, Adi tahu burung apa itu. Dengan paruhnya yang besar berwarna gading, sudah pasti itu burung enggak. Yang mengherankan adalah, bagaimana bisa dia berbicara? Pakai bahasa Indonesia lagi.

Sekali lagi si Burung Enggak bertanya. “Apa yang kalian cari di tempat ini?”

Zach lebih terlihat takjub daripada takut. Mungkin karena dia pikir burung ini lucu dan nampak tidak mengancam, dan paruh melengkung yang besar itu menandakan dia bukan karnivora. “Kamu bisa ngomong? Eeehh…Maksudku…Eeehh…Kog bisa sih?”

Melihat gelagat keduanya, si Burung Enggak merasa ada yang aneh dengan dua manusia ini. Dia memutar-mutar kepalanya. Clingukan atas-bawah. Kanan-kiri. Satu orang berkulit putih, seorang lagi kecoklatan. Seingatnya, baru kali ini dia melihat manusia berpakaian seperti itu.  “Aku mengerti.” Kepalanya mangguk-mangguk.

“Kamu ngerti apa?” Sahut Zach yang jelas tidak paham dengan apa yang burung ini katakan. “Kamu ini apa sih? Atau siapa?”

“Mereka benar-benar sudah membukanya.”

“Membuka apa?” Zach menuntut semua hal ajaib yang menimpanya.

“Mereka siapa?” Sahut Adi.

Burung itu seperti tidak menggubris mereka berdua. Dia berlagak seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan dari Adi dan Zach hanya menggantung di udara. “Memang menunjukkan suatu progres,” Sambungnya sembari berloncat-loncatan, berpindah dari papan satu ke papan lainnya. “Mereka sudah menyusup ke dalam 3 kerajaan. Hem….Hem….”

Adi dan Zach hanya saling pandang.

Kesal juga rasanya melihat si Burung Enggak itu mondar-mandir. Ingin rasanya menangkap burung itu dan memaksanya untuk menjawab. Tapi sebelum Zach beraksi, tangan Adi lebih dulu menyambar si Burung. Lalu mengempitnya karena meronta-ronta.

“Diam!” Bentak Adi. “Bicara yang benar! Katakan! Sekarang ini kita ada dimana?”

Si Burung Enggak terus meronta. “Lepaskan aku! Lepaskan!”

“Mereka itu siapa? Mereka membuka apa?”

Lalu si Burung berhenti. Ditatapnya Adi dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Intonasi dan emosinya juga tidak terbaca. “Mereka,” katanya akhirnya. Ditunjuknya lautan di arah utara dengan sayapnya. “Pasukan Iblis. Mereka telah berhasil mempengaruhi raja para manusia. Mereka akan merebut kembali…Bumi kalian.”

Adi dan Zach bergidik.

Burung itu sadar, dua orang di hadapannya sudah pasti datang dari Bumi dan dia tidak mungkin keliru. “Oh…Tidak. Kalian juga tidak akan bisa pergi dari sini.”

Tidak ada yang mereka berdua pahami dari apa yang burung ini katakan. Dia masih asing, dan mendengar kata Bumi disebut-sebut, mereka harus berhati-hati. Kejutan demi kejutan yang mereka berdua alami telah memberi gambaran bahwa tempat ini begitu ajaib. Portal pelangi. Burung yang bisa berbicara. Dan berbagai keanehan lainnya, membuat mereka harus waspada terhadap apapun. Terhadap siapapun.

Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba hadir.

“Aku tahu…Aku tahu. Ikuti aku!” Dengan sekali manufer, Burung itu berhasil lepas dari dekapan Adi dan langsung terbang, masuk ke dalam rimbunnya hutan pohon kelapa ke arah selatan. “Cepat! Ikut aku!”

“Mau kemana? Hey…” Adi mengejar Zach yang berlari menuju carrier.

“Kemana lagi?” Jawab Zach.

“Kamu bisa percaya?”

Zach mengambil carriernya dan langsung mengejar si Burung Enggak ke dalam hutan “Aku berani sumpah, ini bukan Bumi.” Teriaknya sambil berlari.

Tidak ada alasan lain untuk tetap tinggal. Adi terpaksa mengekor keduanya di belakang.

.....berlanjut.....

Senin, 08 November 2021


 

TIGA

“Aku keluar sebentar.” Kata Adi seraya menarik resleting tenda ke atas. Angin terasa lebih dingin saat menerpa wajahnya dari luar. Badai angin dan kabut tebal adalah kombinasi yang cukup familiar baginya. Tapi yang sekarang, mungkin ini yang terparah.

Sering kali Adi, sebagai pendiri sekaligus guide di Outdoor Java_sebuah penyedia jasa manajemen petualangan alam terbuka_yang didirikannya sendiri, harus meminta maaf berkali-kali jika pertimbangan waktu atau perkiraan cuaca meleset. Mengesampingkan alasan berpetualang di alam bebas dan kesadaran seseorang akan lingkungan asri minim kehadiran manusia, matahari terbit adalah alasan terkuat para klien mau membayarnya mahal. Cuaca tak terduga seperti sekarang adalah masalah tanpa solusi di lingkaran bisnis ini.

Walaupun sebenarnya bisa dimaklumi oleh para klien, bahwa kehendak alam selalu menang melawan manusia, tetap saja guide-guide seperti Adi, pasti ada rasa bersalahnya.

Dibalut kaos oblong tipis Adi mengambil batu dan segera memaku kembali pasak yang terlepas dari flysheet. Jemarinya membeku. Begitu selesai dan hendak kembali masuk ke tenda, sesuatu mengusiknya.

Sesuatu meraung-raung entah dari mana. Samar, tapi jelas ada suaranya.

Adi memutar-mutar tubuhnya, mencari-cari sumber suara itu, tapi yang terlihat hanyalah kabut yang kosong. Deruan angin, pikirnya. Tapi yang itu jelas terdengar seperti raungan bukan deruan. Adi sendiri tidak yakin dengan pikirannya. Dia cukup yakin tidak ada siapa-siapa yang berkemah di dekat-dekat sini. Ini hari selasa di tanggal tua. Biasanya gunung sedang sepi-sepinya, apalagi ini Pasar Bubrah.

Pikiran itu segera dibuangnya jauh-jauh saat setengah badannya sudah masuk ke dalam tenda, tiba-tiba raungan itu terdengar lagi. Hanya sedetik, samar tapi jelas ada suaranya. Sekujur tubuhnya merinding.

“Ada apa mas?” Tanya Zach dari dalam.

Adi hanya menggeleng.

“Yang tadi itu apa ya?”

“Yang mana?”

“Itu. Tadi aku denger suara apa gitu.”

Mendengarnya, Adi merasa ada yang aneh. “Kamu dengar juga?”

Zach mengangguk.

Adi segera masuk dan resleting kembali ditutup. Dia duduk sambil memakai kembali jaket parasitnya. Udara dingin di luar tenda membuat badannya tremor. “Tadi ada pasak yang lepas, tapi sudah dibenerin.”

“Terus suara yang tadi?”

“Iya aku juga dengar. Tapi nggak ada apa-apa di luar?”

“Mungkin ada pendaki lain yang lagi summit.”

Adi menggeleng lagi. “Cuma ada kita di sini.” Ketidaknyamanan seketika menguasainya. Semua orang tahu cikal-bakal tempat ini, yang menjadi camp terakhir pendakian gunung Merapi via desa Selo. Nama Pasar Bubrah diambil dari mitos yang sudah berkembang sejak dulu. “Inikan Pasar Bubrah.” Jawabannya jelas dan Zach tidak ingin membahasnya lagi.

Tiba-tiba seseorang yang bukan dari mereka menjerit.

Keduanya langsung keluar dan sesuatu menggidik mereka. Bukan karena siapa, melaikan apa.

Tak begitu jauh dari kemah, mereka terpaku melihat cahaya warna-warni di tengah pekatnya kabut yang ada. Tidak seperti pelangi pada umumnya yang melengkung jauh di angkasa, pelangi yang mereka saksikan hanya seukuran pintu, persegi panjang, dan warna-warnanya saling mencampur. Mengingatkan Zach pada es krim Paddle Pop harga tiga ribuanbfavoritnya saat SD.

“Kayaknya ada yang nggak beres?” Tanya Zach pada Adi. Pandangannya tak lepas dari frame itu.

“Aku nggak tahu.” Jawab Adi sekenanya. “Inikan Pasar Bubrah.”

Raungan tak lagi terdengar, juga jeritan misterius itu hanya muncul sekali tadi. Kini suara yang terdengar adalah denyit-denyit besi.

Berjarak hanya beberapa puluh meter dari perkemahan mereka, menjulang sebuah menara yang terpasang permanen milik BMKG. Sebuah pemancar yang ada CCTV di puncaknya berdiri di samping bangunan kecil yang ditahan dengan seling-seling baja. Digunakan untuk pemantauan segala macam aktivitas gunung Merapi dari segala aspek berbahayanya.

Sekarang ini, gara-gara badai ini, beberapa seling tampaknya terputus yang mengakibatkan menara itu condong ke arah mereka. Semakin lama Angin terasa semakin kencang sementara kabut berangsur-angsur menipis. Segaris cahaya keemas-emasan mulai muncul di ujung carkrawala.

“Kita harus cari tempat aman…” Adi sudah membungkuk untuk masuk ke dalam tenda ketika dencitan terdengar lagi. Menara itu semakin condong. Sedetik kemudian beberapa seling mencelat.

“…Nggak ada waktu buat packing.” Teriak Zach yang langsung menarik tangan Adi. Mereka lantas berlari menjauh dari radius berbahaya. Mereka menghindari arah angin ke sebuah batu besar di seberang kemah.

Tanpa bisa diduga, kuatnya angin mampu mencabut pasak-pasak dan sebuah tenda yang kehilangan berat dua orang manusia itu melambung jauh, terbang tinggi, lalu berguling-guling dan memuntahkan semua barang-barang yang ada. Terus berguling-guling ke arah frame.

Adi berniat mengejar tendanya ketika kejutan yang lain datang. Menara itu benar-benar roboh dan langsung menggelinding ke arah mereka berdua. Spontan, mereka menunduk dengan kedua tangan menyilang di atas kepala. Menara besi itu menggelinding dengan kecepatan di luar dugaan, menjadikannya sebuah ancaman mematikan. Sempat terhenti terganjal batu besar, menara itu terus bergerak ke arah frame.

Dengan posisi jongkok dengan kepala tersembunyi di silangan tangan, Zach merasakan tubuhnya bergeser. Terus bersgeser, dan bergeser lagi. Dia tahu bahwa kekuatan badai angin bisa saja mendorong tubuhnya, tapi bukan angin yang menjadi biang keladinya. Pelangi? Kini Zach tahu siapa yang harus disalahkan.

“Zach…Zach…” Teriak Adi di depannya. Rupa-rupanya, pergeseran ini membuat mereka terpisah lumayan jauh. “Frame nya.”

Zach membuang mukanya ke frame.

“Lari! Menjauh dari frame.”

Ternyata Adi juga sudah menyadarinya. Dia segera bangkit dan bergegas berlari menjauh. Pada langkah ketiga, dia terpeleset. Tubuhnya yang rebah di tanah seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Frame itu, menyedotnya.

…..

Kedua orang itu berada di dalam ruang bermandikan cahaya putih yang tak bertepi, yang mampu meredam segala jenis suara, yang mampu membuang segala macam distraksi. Sebuah dimensi yang mengisolasi berat dan gravitasi.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada, Zach merasakan tubuhnya berputar-putar. Melayang dikelilingi benda-benda yang juga berputar-putar. Melintas tepat di depan mata, batu-batu mengitari tubuhnya seperti asteroid memagari planet. Juga benda-benda lain di luar jangkauannya. Tenda. Korek. Kompor. Botol. Cafflano kesayangan. Semuanya mengorbit pada tubuhnya. Roti. Keju. Biji-biji kopi.

Mual.

Pusing.

Dia berteriak kencang walau tak ada apa-apa yang masuk ke telinga. Dia merasa seperti berada di dalam pusaran angin topan.

Tiba-tiba Bruuukk…

Seperti dilempar dari tempat yang tinggi, tubuhnya menghantam hamparan pasir yang terasa lembut. Berguling-guling. Lemas tak ada daya sama sekali. Matanya mencoba terbuka. Terlihat bintang-bintang. Terdengar deruan angin. Tercium aroma garam.

Mual.

Pusing.

Kemudian gelap total.

.....berlanjut.....