Senin, 06 Desember 2021


 

ENAM

Walaupun Binggo mengatakan kalau tempat yang akan mereka tuju berada hanya di ujung setapak ini, nyatanya setapak ini tak juga menunjukkan tanda-tanda ada ujungnya. Terpaksa mereka harus berkemah di dalam hutan untuk beristirahat. Hari menjelang malam ketika rintik-rintik gerimis berubah menjadi hujan. Tak apa jika tenda berkapasitas dua orang itu harus ketambahan seekor monster imut-imut yang kini resmi menjadi guide mereka selama berada di sini. Binggo masih terlalu lucu jika harus dipanggil monster.

Adi sudah meringkuk di dalam sleeping bag saat Binggo menceritakan banyak hal pada mereka. Sedangkan Zach mendengarkan dengan gelas kopi yang aromanya menyerbak ke seluruh tenda. Biarpun begitu, Adi juga masih setia mendengarkan semua hal yang keluar dari paruh besar Binggo.

Di dalam sistem Tata Surya, planet Bumi, menurut penuturan si Burung Enggak merupakan planet ganda. Suatu tempat dimana Tuhan menciptakan dua kehidupan dalam satu ruang dan satu waktu. Bahwa ada dunia supranatural yang mendampingi Bumi, mereka menyebutnya Sisi Bumi. Dua dunia ini bersama-sama mengorbit dan berevolusi.

Di masa yang sangat lalu, Bumi dan Sisi Bumi saling berhubungan melalui portal-portal yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Ribuan portal itu membuka dan menutup mengikuti siklus beredarnya benda-benda luar angkasa.

Pada suatu hari dua lempeng bumi bertubrukan, menyiptakan gempa yang menyebabkan longsong di gunung dan tsunami di pantai. Seluruh permukaan Bumi porak-poranda dibuatnya.

“Dunia kita kini bersebrangan,” Kata Binggo melanjutkan. “Biarpun poros Bumi hanya bergeser sedikit saja, bencana yang ditimbulkannya begitu hebat.”

“Portal-portalnya jadi tidak singkron.” Zach menghela napas panjang, membayangkan betapa mengerikannya bencana itu. “Terus?”

Mendengar itu, Adi jadi terbangun. Dia mulai membebaskan tubuhnya dari sleeping bag dan duduk mendengarkan. Dicarupnya beberapa buah beri yang berhasil dikumpulkan sepanjang perjalanan mereka siang tadi sebagai cemilan penahan kantuk. Semua informasi dari Binggo, yang memang penduduk asli Sisi Bumi pastilah sangat penting.

Binggo melanjutkan. Poros Bumi semakin miring dan mengacaukan titik-titik portal yang menghubungkan dua kehidupan ini. Bumi mengalami perubahan ekstrim selama beribu-ribu tahun, dampaknya peradaban tak lagi sama.

Kota-kota yang hancur telah melenyapkan teknologi yang ada, juga orang-orang berpendidikan yang jumlahnya sedikit menjadi semakin sedikit. Catatan-catatan menghilang. Orang-orang penting mati. Bangunan-bangunan rubuh.

Butuh waktu yang sangat lama bagi manusia membangun peradabannya kembali. Kesibukan itulah yang lambat-laun membuat mereka lupa akan keberadaan saudara-saudara mereka di Sisi Bumi.

“Tapi Sisi Bumi tidak pernah melupakan Bumi kalian.” Binggo menutup panjang lebar ceritanya dengan jari terangkat. Memberi ketegasan yang pasti. “Sisi Bumi tidak banyak berubah saat pertama kali Tuhan mengkonsepnya hingga sekarang.

“4 golongan mahluk dibagi menjadi 4 wilayah kekuasaan yang adil. Semuanya tersegmentasi dengan sangat jelas dengan hukum-hukum pemerintah yang otonom di setiap kerajaan.

“Tanah dan Air. Kerajaan Selatan. Kerajaan Manusia.

“Akar dan Daun. Kerajaan Timur. Desa Monster

“Kabut dan Samudra. Kerajaan Utara. Istana Pasukan Iblis.

“Langit dan Cahaya. Kerajaan Barat. Benteng Armada Malaikat.”

Adi dan Zach hanya saling tatap begitu Binggo menurunkan jarinya. Bagi keduanya, cerita itu begitu epik di telinga, tapi tatapan kedua orang itu malah terlihat ada ketakutannya daripada kekagumannya.

“Berarti kita nggak bisa pulang dong?” Tanya Adi.

Zach pun sama binggungnya. “Terus bagaimana?”

“Untuk mengetahui kelanjutan nasib keberadaan kalian di sini, kita harus cepat sampai  ke  tempat itu.” Lanjut Binggo. “Kedatangan kalian ke Sini Bumi mungkin terdengar tak masuk akal bagi orang lain, dan itu berbahaya.”

“Kenapa begitu?” Adi menuntut.

“Jika salah satu portal saja ada yang terbuka, pasti ada yang tidak beres dengan kehidupan.” Bola mata Binggo yang besar memburu mereka berdua tajam. “Kalian harus cepat diamankan.”

“Maksudnya?” Adi masih menuntut.

“Reputasi kalian sebagai manusia Bumi yang serakah dan melupakan Sisi Bumi, dimana saudara semanusia kalian eksis telah menyinggung banyak orang. Karena pada hakikatnya, dulu mereka pernah bersumpah untuk menyatukan kembali kerajaan manusia antara yang di Bumi dan yang di Sisi Bumi.”

Memang tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa diturut sekarang. Adi dan Zach sama-sama tahu, mereka sudah terlalu jauh tersesatnya. Dunia ini asing, jauh dari rumah, dan mungkin saja tidak ada jalan pulang.

.....berlanjut.....

…..