Senin, 08 November 2021


 

TIGA

“Aku keluar sebentar.” Kata Adi seraya menarik resleting tenda ke atas. Angin terasa lebih dingin saat menerpa wajahnya dari luar. Badai angin dan kabut tebal adalah kombinasi yang cukup familiar baginya. Tapi yang sekarang, mungkin ini yang terparah.

Sering kali Adi, sebagai pendiri sekaligus guide di Outdoor Java_sebuah penyedia jasa manajemen petualangan alam terbuka_yang didirikannya sendiri, harus meminta maaf berkali-kali jika pertimbangan waktu atau perkiraan cuaca meleset. Mengesampingkan alasan berpetualang di alam bebas dan kesadaran seseorang akan lingkungan asri minim kehadiran manusia, matahari terbit adalah alasan terkuat para klien mau membayarnya mahal. Cuaca tak terduga seperti sekarang adalah masalah tanpa solusi di lingkaran bisnis ini.

Walaupun sebenarnya bisa dimaklumi oleh para klien, bahwa kehendak alam selalu menang melawan manusia, tetap saja guide-guide seperti Adi, pasti ada rasa bersalahnya.

Dibalut kaos oblong tipis Adi mengambil batu dan segera memaku kembali pasak yang terlepas dari flysheet. Jemarinya membeku. Begitu selesai dan hendak kembali masuk ke tenda, sesuatu mengusiknya.

Sesuatu meraung-raung entah dari mana. Samar, tapi jelas ada suaranya.

Adi memutar-mutar tubuhnya, mencari-cari sumber suara itu, tapi yang terlihat hanyalah kabut yang kosong. Deruan angin, pikirnya. Tapi yang itu jelas terdengar seperti raungan bukan deruan. Adi sendiri tidak yakin dengan pikirannya. Dia cukup yakin tidak ada siapa-siapa yang berkemah di dekat-dekat sini. Ini hari selasa di tanggal tua. Biasanya gunung sedang sepi-sepinya, apalagi ini Pasar Bubrah.

Pikiran itu segera dibuangnya jauh-jauh saat setengah badannya sudah masuk ke dalam tenda, tiba-tiba raungan itu terdengar lagi. Hanya sedetik, samar tapi jelas ada suaranya. Sekujur tubuhnya merinding.

“Ada apa mas?” Tanya Zach dari dalam.

Adi hanya menggeleng.

“Yang tadi itu apa ya?”

“Yang mana?”

“Itu. Tadi aku denger suara apa gitu.”

Mendengarnya, Adi merasa ada yang aneh. “Kamu dengar juga?”

Zach mengangguk.

Adi segera masuk dan resleting kembali ditutup. Dia duduk sambil memakai kembali jaket parasitnya. Udara dingin di luar tenda membuat badannya tremor. “Tadi ada pasak yang lepas, tapi sudah dibenerin.”

“Terus suara yang tadi?”

“Iya aku juga dengar. Tapi nggak ada apa-apa di luar?”

“Mungkin ada pendaki lain yang lagi summit.”

Adi menggeleng lagi. “Cuma ada kita di sini.” Ketidaknyamanan seketika menguasainya. Semua orang tahu cikal-bakal tempat ini, yang menjadi camp terakhir pendakian gunung Merapi via desa Selo. Nama Pasar Bubrah diambil dari mitos yang sudah berkembang sejak dulu. “Inikan Pasar Bubrah.” Jawabannya jelas dan Zach tidak ingin membahasnya lagi.

Tiba-tiba seseorang yang bukan dari mereka menjerit.

Keduanya langsung keluar dan sesuatu menggidik mereka. Bukan karena siapa, melaikan apa.

Tak begitu jauh dari kemah, mereka terpaku melihat cahaya warna-warni di tengah pekatnya kabut yang ada. Tidak seperti pelangi pada umumnya yang melengkung jauh di angkasa, pelangi yang mereka saksikan hanya seukuran pintu, persegi panjang, dan warna-warnanya saling mencampur. Mengingatkan Zach pada es krim Paddle Pop harga tiga ribuanbfavoritnya saat SD.

“Kayaknya ada yang nggak beres?” Tanya Zach pada Adi. Pandangannya tak lepas dari frame itu.

“Aku nggak tahu.” Jawab Adi sekenanya. “Inikan Pasar Bubrah.”

Raungan tak lagi terdengar, juga jeritan misterius itu hanya muncul sekali tadi. Kini suara yang terdengar adalah denyit-denyit besi.

Berjarak hanya beberapa puluh meter dari perkemahan mereka, menjulang sebuah menara yang terpasang permanen milik BMKG. Sebuah pemancar yang ada CCTV di puncaknya berdiri di samping bangunan kecil yang ditahan dengan seling-seling baja. Digunakan untuk pemantauan segala macam aktivitas gunung Merapi dari segala aspek berbahayanya.

Sekarang ini, gara-gara badai ini, beberapa seling tampaknya terputus yang mengakibatkan menara itu condong ke arah mereka. Semakin lama Angin terasa semakin kencang sementara kabut berangsur-angsur menipis. Segaris cahaya keemas-emasan mulai muncul di ujung carkrawala.

“Kita harus cari tempat aman…” Adi sudah membungkuk untuk masuk ke dalam tenda ketika dencitan terdengar lagi. Menara itu semakin condong. Sedetik kemudian beberapa seling mencelat.

“…Nggak ada waktu buat packing.” Teriak Zach yang langsung menarik tangan Adi. Mereka lantas berlari menjauh dari radius berbahaya. Mereka menghindari arah angin ke sebuah batu besar di seberang kemah.

Tanpa bisa diduga, kuatnya angin mampu mencabut pasak-pasak dan sebuah tenda yang kehilangan berat dua orang manusia itu melambung jauh, terbang tinggi, lalu berguling-guling dan memuntahkan semua barang-barang yang ada. Terus berguling-guling ke arah frame.

Adi berniat mengejar tendanya ketika kejutan yang lain datang. Menara itu benar-benar roboh dan langsung menggelinding ke arah mereka berdua. Spontan, mereka menunduk dengan kedua tangan menyilang di atas kepala. Menara besi itu menggelinding dengan kecepatan di luar dugaan, menjadikannya sebuah ancaman mematikan. Sempat terhenti terganjal batu besar, menara itu terus bergerak ke arah frame.

Dengan posisi jongkok dengan kepala tersembunyi di silangan tangan, Zach merasakan tubuhnya bergeser. Terus bersgeser, dan bergeser lagi. Dia tahu bahwa kekuatan badai angin bisa saja mendorong tubuhnya, tapi bukan angin yang menjadi biang keladinya. Pelangi? Kini Zach tahu siapa yang harus disalahkan.

“Zach…Zach…” Teriak Adi di depannya. Rupa-rupanya, pergeseran ini membuat mereka terpisah lumayan jauh. “Frame nya.”

Zach membuang mukanya ke frame.

“Lari! Menjauh dari frame.”

Ternyata Adi juga sudah menyadarinya. Dia segera bangkit dan bergegas berlari menjauh. Pada langkah ketiga, dia terpeleset. Tubuhnya yang rebah di tanah seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Frame itu, menyedotnya.

…..

Kedua orang itu berada di dalam ruang bermandikan cahaya putih yang tak bertepi, yang mampu meredam segala jenis suara, yang mampu membuang segala macam distraksi. Sebuah dimensi yang mengisolasi berat dan gravitasi.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada, Zach merasakan tubuhnya berputar-putar. Melayang dikelilingi benda-benda yang juga berputar-putar. Melintas tepat di depan mata, batu-batu mengitari tubuhnya seperti asteroid memagari planet. Juga benda-benda lain di luar jangkauannya. Tenda. Korek. Kompor. Botol. Cafflano kesayangan. Semuanya mengorbit pada tubuhnya. Roti. Keju. Biji-biji kopi.

Mual.

Pusing.

Dia berteriak kencang walau tak ada apa-apa yang masuk ke telinga. Dia merasa seperti berada di dalam pusaran angin topan.

Tiba-tiba Bruuukk…

Seperti dilempar dari tempat yang tinggi, tubuhnya menghantam hamparan pasir yang terasa lembut. Berguling-guling. Lemas tak ada daya sama sekali. Matanya mencoba terbuka. Terlihat bintang-bintang. Terdengar deruan angin. Tercium aroma garam.

Mual.

Pusing.

Kemudian gelap total.

.....berlanjut.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar