TIGA
“Aku
keluar sebentar.” Kata Adi seraya menarik resleting tenda ke atas. Angin terasa
lebih dingin saat menerpa wajahnya dari luar. Badai angin dan kabut tebal
adalah kombinasi yang cukup familiar baginya. Tapi yang sekarang, mungkin ini
yang terparah.
Sering
kali Adi, sebagai pendiri sekaligus guide di Outdoor Java_sebuah penyedia jasa
manajemen petualangan alam terbuka_yang didirikannya sendiri, harus meminta
maaf berkali-kali jika pertimbangan waktu atau perkiraan cuaca meleset.
Mengesampingkan alasan berpetualang di alam bebas dan kesadaran seseorang akan
lingkungan asri minim kehadiran manusia, matahari terbit adalah alasan terkuat
para klien mau membayarnya mahal. Cuaca tak terduga seperti sekarang adalah
masalah tanpa solusi di lingkaran bisnis ini.
Walaupun
sebenarnya bisa dimaklumi oleh para klien, bahwa kehendak alam selalu menang
melawan manusia, tetap saja guide-guide seperti Adi, pasti ada rasa
bersalahnya.
Dibalut
kaos oblong tipis Adi mengambil batu dan segera memaku kembali pasak yang
terlepas dari flysheet. Jemarinya
membeku. Begitu selesai dan hendak kembali masuk ke tenda, sesuatu mengusiknya.
Sesuatu
meraung-raung entah dari mana. Samar, tapi jelas ada suaranya.
Adi
memutar-mutar tubuhnya, mencari-cari sumber suara itu, tapi yang terlihat hanyalah
kabut yang kosong. Deruan angin,
pikirnya. Tapi yang itu jelas terdengar seperti raungan bukan deruan. Adi
sendiri tidak yakin dengan pikirannya. Dia cukup yakin tidak ada siapa-siapa
yang berkemah di dekat-dekat sini. Ini hari selasa di tanggal tua. Biasanya
gunung sedang sepi-sepinya, apalagi ini Pasar Bubrah.
Pikiran
itu segera dibuangnya jauh-jauh saat setengah badannya sudah masuk ke dalam
tenda, tiba-tiba raungan itu terdengar lagi. Hanya sedetik, samar tapi jelas
ada suaranya. Sekujur tubuhnya merinding.
“Ada
apa mas?” Tanya Zach dari dalam.
Adi
hanya menggeleng.
“Yang
tadi itu apa ya?”
“Yang
mana?”
“Itu.
Tadi aku denger suara apa gitu.”
Mendengarnya,
Adi merasa ada yang aneh. “Kamu dengar juga?”
Zach
mengangguk.
Adi
segera masuk dan resleting kembali ditutup. Dia duduk sambil memakai kembali
jaket parasitnya. Udara dingin di luar tenda membuat badannya tremor. “Tadi ada pasak yang lepas, tapi
sudah dibenerin.”
“Terus
suara yang tadi?”
“Iya
aku juga dengar. Tapi nggak ada apa-apa di luar?”
“Mungkin
ada pendaki lain yang lagi summit.”
Adi
menggeleng lagi. “Cuma ada kita di sini.” Ketidaknyamanan seketika menguasainya.
Semua orang tahu cikal-bakal tempat ini, yang menjadi camp terakhir pendakian
gunung Merapi via desa Selo. Nama Pasar Bubrah diambil dari mitos yang sudah
berkembang sejak dulu. “Inikan Pasar Bubrah.” Jawabannya jelas dan Zach tidak
ingin membahasnya lagi.
Tiba-tiba
seseorang yang bukan dari mereka menjerit.
Keduanya
langsung keluar dan sesuatu menggidik mereka. Bukan karena siapa, melaikan apa.
Tak
begitu jauh dari kemah, mereka terpaku melihat cahaya warna-warni di tengah
pekatnya kabut yang ada. Tidak seperti pelangi pada umumnya yang melengkung
jauh di angkasa, pelangi yang mereka saksikan hanya seukuran pintu, persegi
panjang, dan warna-warnanya saling mencampur. Mengingatkan Zach pada es krim
Paddle Pop harga tiga ribuanbfavoritnya saat SD.
“Kayaknya
ada yang nggak beres?” Tanya Zach pada Adi. Pandangannya tak lepas dari frame itu.
“Aku
nggak tahu.” Jawab Adi sekenanya. “Inikan Pasar Bubrah.”
Raungan
tak lagi terdengar, juga jeritan misterius itu hanya muncul sekali tadi. Kini
suara yang terdengar adalah denyit-denyit besi.
Berjarak
hanya beberapa puluh meter dari perkemahan mereka, menjulang sebuah menara yang
terpasang permanen milik BMKG. Sebuah pemancar yang ada CCTV di puncaknya
berdiri di samping bangunan kecil yang ditahan dengan seling-seling baja.
Digunakan untuk pemantauan segala macam aktivitas gunung Merapi dari segala
aspek berbahayanya.
Sekarang
ini, gara-gara badai ini, beberapa seling tampaknya terputus yang mengakibatkan
menara itu condong ke arah mereka. Semakin lama Angin terasa semakin kencang
sementara kabut berangsur-angsur menipis. Segaris cahaya keemas-emasan mulai
muncul di ujung carkrawala.
“Kita
harus cari tempat aman…” Adi sudah membungkuk untuk masuk ke dalam tenda ketika
dencitan terdengar lagi. Menara itu semakin condong. Sedetik kemudian beberapa
seling mencelat.
“…Nggak
ada waktu buat packing.” Teriak Zach
yang langsung menarik tangan Adi. Mereka lantas berlari menjauh dari radius
berbahaya. Mereka menghindari arah angin ke sebuah batu besar di seberang
kemah.
Tanpa
bisa diduga, kuatnya angin mampu mencabut pasak-pasak dan sebuah tenda yang
kehilangan berat dua orang manusia itu melambung jauh, terbang tinggi, lalu
berguling-guling dan memuntahkan semua barang-barang yang ada. Terus berguling-guling
ke arah frame.
Adi
berniat mengejar tendanya ketika kejutan yang lain datang. Menara itu
benar-benar roboh dan langsung menggelinding ke arah mereka berdua. Spontan,
mereka menunduk dengan kedua tangan menyilang di atas kepala. Menara besi itu
menggelinding dengan kecepatan di luar dugaan, menjadikannya sebuah ancaman
mematikan. Sempat terhenti terganjal batu besar, menara itu terus bergerak ke
arah frame.
Dengan
posisi jongkok dengan kepala tersembunyi di silangan tangan, Zach merasakan
tubuhnya bergeser. Terus bersgeser, dan bergeser lagi. Dia tahu bahwa kekuatan
badai angin bisa saja mendorong tubuhnya, tapi bukan angin yang menjadi biang
keladinya. Pelangi? Kini Zach tahu
siapa yang harus disalahkan.
“Zach…Zach…”
Teriak Adi di depannya. Rupa-rupanya, pergeseran ini membuat mereka terpisah
lumayan jauh. “Frame nya.”
Zach
membuang mukanya ke frame.
“Lari!
Menjauh dari frame.”
Ternyata
Adi juga sudah menyadarinya. Dia segera bangkit dan bergegas berlari menjauh.
Pada langkah ketiga, dia terpeleset. Tubuhnya yang rebah di tanah seperti
ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Frame itu, menyedotnya.
…..
Kedua
orang itu berada di dalam ruang bermandikan cahaya putih yang tak bertepi, yang
mampu meredam segala jenis suara, yang mampu membuang segala macam distraksi.
Sebuah dimensi yang mengisolasi berat dan gravitasi.
Dengan
sisa-sisa kesadaran yang ada, Zach merasakan tubuhnya berputar-putar. Melayang
dikelilingi benda-benda yang juga berputar-putar. Melintas tepat di depan mata,
batu-batu mengitari tubuhnya seperti asteroid memagari planet. Juga benda-benda
lain di luar jangkauannya. Tenda. Korek. Kompor. Botol. Cafflano kesayangan.
Semuanya mengorbit pada tubuhnya. Roti. Keju. Biji-biji kopi.
Mual.
Pusing.
Dia
berteriak kencang walau tak ada apa-apa yang masuk ke telinga. Dia merasa
seperti berada di dalam pusaran angin topan.
Tiba-tiba
Bruuukk…
Seperti
dilempar dari tempat yang tinggi, tubuhnya menghantam hamparan pasir yang
terasa lembut. Berguling-guling. Lemas tak ada daya sama sekali. Matanya mencoba
terbuka. Terlihat bintang-bintang. Terdengar deruan angin. Tercium aroma garam.
Mual.
Pusing.
Kemudian
gelap total.
.....berlanjut.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar