Kamis, 11 November 2021


 

EMPAT

Dalam keputusasaan, Travolta menghempaskan seluruh berat badannya pada senderan kursi tua berdebu. Menggerutu. Malaikat sialan.

Sudah hampir dua minggu setiap tengah malam, dia harus melakukan semua ini dalam kerahasiaan. Diam-diam masuk ke sebuah tempat terlarang, tempat yang tersegel dari publik dengan julukan perpustakaan berhantu. Yang membuatnya pilu adalah, semua buku-buku yang tersimpan, perabot-perabot, pajangan-pajangan yang konon, menurut desas-desus yang tersebar, telah dikutuk oleh seorang hantu gentayangan bernama Amoro.

Bayangan masa lalunya muncul kembali, mengiringi cerita-certia mistis yang kini menggerayanginya dari segala sudut. Saat itu dia berusia 10 tahun, terbangun dari tidur nyenyaknya ketika suatu kegaduhan terjadi. Sejak kali pertama menenggelamkan diri ke dalam kegelapan perpustakaan ini, sosok sang ayah selalu saja hadir. Bukan dalam wujud hantu bergentayangan, melainkan potongan-potongan ingatan.

“Apa yang terjadi?” Teriak seseorang di balik pintu kamarnya.

Jawabannya berupa bisik-bisik.

Travolta kecil turun dari kasur mendekati pintu. Mengintip melalui lubang kunci.

“Di perpustakaan,” seseorang menjawab. “Semua sedang menuju ke sana.”

Terdengar derap-derap langkah kaki yang menjauh.

Bergegas bocah itu keluar kamar. Dengan piaya dan kaki telanjang, dia menguntit orang-orang yang tergesa-gesa berlarian menuju tempat yang sama.

“Dimana Travolta?” Kata seseorang.

Travolta mengenalinya. Suara itu lembut dan merdu. Tidak salah lagi, itu pamannya Alansa.

Ajudan di sisi kanannya menjawab. Masih dalam bisik-bisik. “Pintu kamarnya terkunci, Pangeran.”

“Bagus.”

Mendengar sepotong namanya disebut-sebut, Travolta merasa tidak nyaman. Entah apa dan entah mengapa, dia merasa ada dirinya yang mungkin berkaitan dengan segalanya yang gaduh malam ini. Kemudian dia berhenti, bersembunyi di dalam ceruk, di balik patung seorang pria telanjang seukuran manusia asli. Dari sini dia mengamati.

“Segera bawa ke ruang isolasi! Ikuti semua protokol, dan sekali lagi…” Tiba-tiba Alansa berbalik badan, mengunci pandangannya pada sebuah patung yang menatapnya balik dengan pandangan kosong. Dia yakin sekali kalau patung itu baru saja bergerak. Kemudian dia kembali lagi pada si ajudan. “Jangan sampai pangeran muda tahu hingga pengumuman resmi dari dewan kerajaan dirilis.”

Travolta mengutuk dirinya sendiri, yang karena kecerobohannya patung itu goyah karena tersenggol. Dia terus mengintip dari sela-sela yang terbentuk dari pose kedua kaki patung itu yang saling menyilang. Terlihat seseorang dibopong dengan tandu. Sekujur tubuh orang itu ditutupi selembar kain putih. Ada noda darah yang sepertinya, sumbernya ada pada pergelangan tangan atau luka di paha.

Alansa terlihat mencurigakan. Ada sesuatu yang mencurigakan.

Setelah memastikan orang-orang itu, yang dipimpin Alansa berada di jarak yang cukup aman, Travolta berlari ketakutan kembali ke kamarnya.

Tidak perlu gembok baja atau papan peringatan. Sejak tragedi bunuh diri itu hingga sekarang, perpustakaan terlarang dari segala macam jenis aktivitas. Mitos itu segera menyebar dengan begitu cepat_hantu raja Amoro bergentayangan setiap malam_menyegel pintu itu dengan sangat baik.

Omong kosong. Gerutu Travolta. Ayahku bukan hantu.

Segaris cahaya orange terlihat di jendela. Waktunya habis untuk hari ini. Bergegas dia menutup jendela, merapikan kursi, dan menyambar lentera itu. Lantas pergi.

…..

Mereka mendarat di pantai berpasir putih yang dipeluk erat lautan yang menenangkan. Badai itu sudah berlalu, digantikan dengan angin yang meniup sepoi-sepoi yang menyejukkan. Juga matahari pagi yang siap menyambut. Tidak ada lagi kabut yang dingin. Tidak ada lagi batu-batu raksasa di atas pasir vulkanik yang cadas.

“Badainya sudah pergi.” Dengan wajah yang sekacau itu, Zach mencoba tersenyum, siap menyambut Adi yang baru saja siuman. “Lihat mas, masih dapet sunrie kan kita. Hehehe…”

Jauh di depan mata, berlahan-lahan bulatan sempurna itu merangkak naik dari dalam laut di ujung cakrawala, menyiptakan semburat cahaya orange yang semakin melebar. Awan-awan tipis terarak.

Lautan sedang tenang-tenangnya.

Mereka tidak mencuim bau belerang, melainkan segarnya aroma garam.

Pohon-pohon kelapa.

Dengan kepala pusing dan mata masih belekkan. Sejenak Adi berpikir, badainya sekuat apa? Bisa-bisanya mereka terbawa angin sampai ke tempat ini. Mustahil untuk percaya bahwa badai kemarin mampu menerbangkannya dari Pasar Bubrah di ketinggian lebih dari 2500 meter sampai ke pantai ini dengan altitude kurang dari 1 MDPL. Segalanya menjadi terlalu ajaib untuk bisa dimasukkan akal.

“Pasar Bubrah emang seajaib itu ya?” Zach menatap Adi lama. “Kita mencelat dari gunung ke pantai. Nggak mati? Cuma lecet-lecet doang?”

,Butuh waktu untuk Adi mencerna pertanyaan itu. Dari semua pendaki yang pernah bercerita tentang hal-hal minor tentang gunung, baru kali ini pertanyaan sebegitu polosnya terlontar dari mulut seseorang. Mengesampingkan bahwa dia memang firstimer dan kurang banyak tahu soal topik-topik obrolan para pendaki. Ada fakta menggelitik bahwa Zach memilih kata ‘ajaib’ dibandingkan dengan beberapa jenis diksi yang sebenarnya lebih cocok dipakai semacam ‘angker, mistis, atau sakral.’

“Ekstraterestrial?”

Adi menggeleng. Dipilihnya istilah yang menurutnya lebih pas. “Supranatural.” Jawabnya. “Kamu tahu nggak, katamu kamu lulusan luar negeri dan kerja di Australia sudah tahunan, tapi pertanyaanmu barusan,” Adi menghela napas panjang, memilih untuk geleng-geleng daripada melanjutkannya. “Ini masalah serius Zach, jangan main-mian.”

“Habis kita bisa apa? Sudah terlanjur begini keadaannya. Hehe…”

“Selera humormu itu nggak ada lucu-lucunya.”

Zach hanya cengar-cengir. “Kalau begitu sekarang bagaimana?”

“Aku nggak tahu. Kemarin itu badai terparang yang kutemui, terus soal pelangi itu…” Sekata tiba-tiba muncul dibenaknya. Berputar-putar. “…Itu juga aku nggak tahu.”

Sekali lagi Zach menatapnya lama. “Pelangi itu…Frame itu…Portal.”

Portal? Sejenak Adi dibungkam oleh jawaban itu. Dibalik kepolosan Zach dan pembawaannya yang santai cenderung cengengesan, Adi memang harus percaya bahwa orang ini pintar. Dia lulusan luar negeri dan sudah kerja di Australia bertahun-tahun

“Mungkin ada hubungannya dengan camp terakhir waktu kita kemah.”

“Pasar Bubrah?” Adi menyipitkan matanya, Itu terdengar konyol sekaligus benar untuknya. Zach ternyata memang tidak sepolos yang dipikirkannya. “Kamu ini setengah bule tapi bisa percaya sama yang begitu-begituan.”

“Aku ini setengah Jawa, makanya aku harus percaya sama yang begitu-begituan.”

“Tapi masa iya, portal?”

“Tapi semuanya aneh kan?” Zach menuntut. Dia tahu apa yang mereka alami memang sulit dipercaya, bahkan untuk orang yang mengaku sudah mendaki Merapi belasan kali seperti Adi. Bisa saja Adi mengenal tempat itu dengan sangat baik, tapi itu dari segi fisiknya, bukan dari hal-hal minornya. Atau mungkin karena baru pertama ini Adi mengalami ‘ketiban sial’ di gunung. “Mas Adi juga dengar kan suara-suara yang kemarin? Mau ekstraterestrial, mau supranatural, kenyataannya kita emang masuk ke dalam frame pelangi itu dan…” Zach mengamati sekitar. “…Disini kita sekarang.”

“Aku baru siuman, beri waktu sebentar. Okey!”

Zach bisa mengerti, toh sendari tadi Adi terus-terusan memijat-mijat kepalanya. Proses mendaratnya mungkin lebih parah dari yang dialaminya.

Ada jeda beberapa menit sebelum Zach akhirnya mengatakan sesuatu yang sudah ditahan-tahannya dari tadi. “Mas Adi sadar nggak? Kalau mungkin, kita sedang tidak berada di Bumi.” Ditunjuknya sebuah titik di kejauhan. Terlihat ada sebuah plang penunjuk jalan “Kemarin aku mendarat di dekat situ. Kamu harus lihat!”

“Ngomong apa sih?”

Zach langsung berdiri sambil menarik tangan Adi. “Ayo! Dibilangin nggak percaya.”

Sambil mereka berjalan sambil Adi mencari-cari sebuah identitas yang mungkin dikenalinya. Pertama, mengingat jaraknya yang paling dekat dengan gunung Merapi, Adi sudah menduga mungkin tempat ini berada di daerah Gunung Kidul. Tapi pantai ini benar-benar steril dari jejak-jejak keberadaan manusia. Tidak ada perahu-perahu. Tidak ada gazebo-gazebo. Matanya terus memindai. Tidak ada sampah-sampah plastik di sepanjang mereka berjalan. Jauh di sebelah kanan, hutan pohon kelapa yang terlalu rimbun. Dia melihat 2 carrier besar saling bersender dengan rapi. “Itu kamu yang beresin?”

“Waktu kamu belum bangun, aku sudah kumpulin semua barang-barang.”

“Tendanya bagaimana?” yang terlintas di kepala Adi, jika benar tempat ini asing untuk mereka, tenda adalah kebutuhan primer untuk bertahan hidup selain perkakas untuk masak-masak. “Kompor? Gas? Nesting…”

“…Udah semua. Nesting penyok-penyok, matras tinggal satu.”

…..

Adi berdiri dengan heran. Plang penunjuk jalan seperti ini memang ada dimana-mana, sering juga dianggap second landmark suatu kota untuk kepentingan wisata. Tapi yang ini, ada berbeda.

“Gimana? Mas Adi tahu apa artinya?” Tanya Zach. Yang jelas mereka pasti menghadapi kebingungan yang sama. “Percaya kan kalau ini bukan Bumi.”

“Kamu ngomong apaan sih?” Adi mencoba menepis apa yang ada di pikiran Zach. Kliennya ini baru dua kali naik gunung. Dia firstimer.

“Kalau kita masih di Bumi, kenapa nggak ada sinyal?”

“Sinyal? Anak urban kaya kamu emang ya, mikirnya semua tempat di Bumi pasti ada sinyal. Zach, kamu paranoid.”

Zach lalu mengambil ponselnya untuk memotret plang penunjuk jalan itu. “Buat kenang-kenangan. Hehehe… Aku pernah beberapa kali diving, dan di tengah samudra sekalipun, kadang-kadang masih ada sinyal.”

Selama 5 tahun menjalankan Outdoor Java, Adi mengenal betul tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Dari semua gunung, hutan, pantai. Tempat ini seperti kurang publikasi, dan seperti tidak pernah ada di internet. Kejadian tersedot frame pelangi tempo hari memang terdengar ajaib, nyaris mustahil untuk ditarik dari sisi ilmiahnya. Sistem telekomunikasi nirkabel yang tidak terjangkau menjadi indikasi kuat bahwa pantai ini berada di suatu tempat yang jauh dari mana-mana. Jarang didatangi orang. Dan bisa jadi tak berpenghuni. Tapi jika dikaitkan dengan hal-hal yang melekat di balik nama Pasar Bubrah, walaupun tidak masuk akal, dia pikir semuanya bisa saja terjadi.

“Terus kita mau pilih jalan yang mana?” Zach menunjuk salah satu papan nama yang terpasang di plang. “Yang ini menunjuk ke arah selatan ya?”

Adi membaca tulisan putih di papan berwarna orange itu. “Tanah dan Air. Kerajaan Manusia.” Terdengar cukup logis untuknya. Di balik makna harfiahnya, Tanah dan Air terbayang seperti daerah pertanian luas dengan sistem irigasi yang baik. “Kerajaan Manusia? Kita harus ke sana hanya karena kita juga manusia kan.” Dia manggut-manggut.

“Kalau yang ini?” Kali ini papan berwarna biru yang Zach tunjuk. Sisi meruncingnya menunjuk ke arah barat. Alisnya seketika mengangkat penuh tanya. “Cahaya dan Langit. Kastil Malaikat. Ini artinya apa ya?”

Plang penunjuk jalan ini pasti hanya untuk main-main. Dibuat oleh seniman iseng yang bisa jadi mereka hanya ingin cari-cari sensasi saja. Kedua orang itu lalu memutari plang itu yang berupa tiang yang terbuat dari segelondong kayu setinggi manusia, yang disetiap arah mata angin dipasangi papan-papan, yang menunjuk ke sebuah tempat yang nama tempat itupun aneh-aneh. Sudah pasti ini kerjaan orang yang tidak punya kerjaan.

Mereka membaca 3 papan nama yang tersisa.

Satu papan berwarna hitam, tulisannya pun juga berwarna hitam membuatnya susah untuk dibaca, namun masih bisa terbaca oleh mereka. Tertulis ‘Kabut dan Samudra. Istana Iblis’ yang menunjuk ke arah utara.

Satu papan yang menunjuk arah timur bernama ‘Akar dan Daun. Desa Monster’ berwarna hijau muda.

“Kalau yang ini?” Adi berhenti pada papan yang terakhir. Berwarna putih. “jelas kita tidak mungkin ke sana kan.”

Zach mendekat dan melihat papan putih itu dengan skeptis. Papan yang ini menunjuk ke atas dan tidak ada tulisan apa-apa. Dia mendongak ke atas. “Arahnya ke langit. Mungkin ‘Singgasana Tuhan? Surga?”

Jelas Zach hanya bergurau. Adi tertawa saja mendengarnya. “Semua papan menunjuk ke empat arah mata angin utama, plus ke atas…” Mereka saling tatap. Adi tahu mereka pasti berpikir sama.

“…Berarti ada juga yang menunjuk ke bawah.” Zach kembali berputar untuk memastikan tidak ada papan yang terlewat. Tapi setelah dihitung, jumlahnya sama dan tidak ada papan yang menunjuk ke bawah.

“Bukan ditulis di papan.” Kata Adi yang sudah berjongkok. “Tapi diukir.”

Ada sesuatu yang membuat mereka bergidik. Adi merinding seketika saat satu kata yang ada, yang diukir di bagian plang penunjuk jalan ini. Dibawah gambar anak panah yang menunjuk ke bawah, terbaca jelas olehnya_Bumi.

“Omong kosong.”

Zach terkekeh puas melihatnya. “Apa kubilang. Tidak ada sinyal berarti tidak di Bumi.”

Lalu tiba-tiba.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Para manusia.”

Adi dan Zach terloncat dari tempatnya. Tepat dihadapannya seekor burung tiba-tiba bertengger di salah satu papan. Berbicara. Bertanya.

“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?” Sekali lagi burung itu bertanya.

Karena sering melihat National Geographic di Youtube, Adi tahu burung apa itu. Dengan paruhnya yang besar berwarna gading, sudah pasti itu burung enggak. Yang mengherankan adalah, bagaimana bisa dia berbicara? Pakai bahasa Indonesia lagi.

Sekali lagi si Burung Enggak bertanya. “Apa yang kalian cari di tempat ini?”

Zach lebih terlihat takjub daripada takut. Mungkin karena dia pikir burung ini lucu dan nampak tidak mengancam, dan paruh melengkung yang besar itu menandakan dia bukan karnivora. “Kamu bisa ngomong? Eeehh…Maksudku…Eeehh…Kog bisa sih?”

Melihat gelagat keduanya, si Burung Enggak merasa ada yang aneh dengan dua manusia ini. Dia memutar-mutar kepalanya. Clingukan atas-bawah. Kanan-kiri. Satu orang berkulit putih, seorang lagi kecoklatan. Seingatnya, baru kali ini dia melihat manusia berpakaian seperti itu.  “Aku mengerti.” Kepalanya mangguk-mangguk.

“Kamu ngerti apa?” Sahut Zach yang jelas tidak paham dengan apa yang burung ini katakan. “Kamu ini apa sih? Atau siapa?”

“Mereka benar-benar sudah membukanya.”

“Membuka apa?” Zach menuntut semua hal ajaib yang menimpanya.

“Mereka siapa?” Sahut Adi.

Burung itu seperti tidak menggubris mereka berdua. Dia berlagak seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan dari Adi dan Zach hanya menggantung di udara. “Memang menunjukkan suatu progres,” Sambungnya sembari berloncat-loncatan, berpindah dari papan satu ke papan lainnya. “Mereka sudah menyusup ke dalam 3 kerajaan. Hem….Hem….”

Adi dan Zach hanya saling pandang.

Kesal juga rasanya melihat si Burung Enggak itu mondar-mandir. Ingin rasanya menangkap burung itu dan memaksanya untuk menjawab. Tapi sebelum Zach beraksi, tangan Adi lebih dulu menyambar si Burung. Lalu mengempitnya karena meronta-ronta.

“Diam!” Bentak Adi. “Bicara yang benar! Katakan! Sekarang ini kita ada dimana?”

Si Burung Enggak terus meronta. “Lepaskan aku! Lepaskan!”

“Mereka itu siapa? Mereka membuka apa?”

Lalu si Burung berhenti. Ditatapnya Adi dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Intonasi dan emosinya juga tidak terbaca. “Mereka,” katanya akhirnya. Ditunjuknya lautan di arah utara dengan sayapnya. “Pasukan Iblis. Mereka telah berhasil mempengaruhi raja para manusia. Mereka akan merebut kembali…Bumi kalian.”

Adi dan Zach bergidik.

Burung itu sadar, dua orang di hadapannya sudah pasti datang dari Bumi dan dia tidak mungkin keliru. “Oh…Tidak. Kalian juga tidak akan bisa pergi dari sini.”

Tidak ada yang mereka berdua pahami dari apa yang burung ini katakan. Dia masih asing, dan mendengar kata Bumi disebut-sebut, mereka harus berhati-hati. Kejutan demi kejutan yang mereka berdua alami telah memberi gambaran bahwa tempat ini begitu ajaib. Portal pelangi. Burung yang bisa berbicara. Dan berbagai keanehan lainnya, membuat mereka harus waspada terhadap apapun. Terhadap siapapun.

Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba hadir.

“Aku tahu…Aku tahu. Ikuti aku!” Dengan sekali manufer, Burung itu berhasil lepas dari dekapan Adi dan langsung terbang, masuk ke dalam rimbunnya hutan pohon kelapa ke arah selatan. “Cepat! Ikut aku!”

“Mau kemana? Hey…” Adi mengejar Zach yang berlari menuju carrier.

“Kemana lagi?” Jawab Zach.

“Kamu bisa percaya?”

Zach mengambil carriernya dan langsung mengejar si Burung Enggak ke dalam hutan “Aku berani sumpah, ini bukan Bumi.” Teriaknya sambil berlari.

Tidak ada alasan lain untuk tetap tinggal. Adi terpaksa mengekor keduanya di belakang.

.....berlanjut.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar