Sabtu, 18 September 2021


Dengan sadar aku menyusup di antara sebuah kisah. Aku tahu ini menyakitkan, memang. Tapi hanya dengan begini aku bisa selalu dekat dengan Mawar, meskipun kutahu selalu ada Kusuma yang sering kali tak pernah jauh darinya. Senang melihat kedua sahabatku itu saling mencintai, meskipun di waktu yang sama hati ini ikut terluka. Sebab, segala yang kurasa tak pernah sama dengan apa yang kuucap. Sungguh, ingin rasanya kuganti posisi Kusuma. Aku ingin menjadi pundak yang disandari Mawar, membelai rambutnya sambil berbicara dalam bisikan semacam apa kabar? Atau bagaimana harimu?

Pada suatu malam Kusuma terlibat kecelakaan di persimpangan jalan, tubuhnya yang mencelat dari motornya kehilangan banyak sekali darah. Dia sekarat. Tak sanggup kulihat Mawar menangis yang sebegitunya. Hingga pada akhirnya pikiran kotor ini mampu mengambil alih logika. Di atas segala iba, terpaksa aku harus melakukan sesuatu di antara bimbang yang ada. Tak bisa kubiarkan sahabatku pergi meninggalkanku secepat ini, tak bisa kubiarkan wanita yang kucinta sendu sesendu ini.

Tahun-tahun berlalu, kuterima nasi kotak dari suatu alamat yang sangat kukenal. Ada foto bayi lucu dengan sebuah nama yang indah. Aku ikut bahagia melihat senyum di wajah polos itu, juga senyum kedua orang tuanya yang sudah lama tak kukunjungi. Sejenak kuteringat bahwa darah kita, antara aku, Kusuma, dan bayi ini saling terikat. Ya, aku curang. Telah kutitipkan darah pada Kusuma agar sebagian diriku bisa merasakan cinta dari Mawar.


Sedarah/ Sebentang Kisah/ Gie Saputro/ Solo/ 2021