ENAM
Walaupun
Binggo mengatakan kalau tempat yang akan mereka tuju berada hanya di ujung
setapak ini, nyatanya setapak ini tak juga menunjukkan tanda-tanda ada
ujungnya. Terpaksa mereka harus berkemah di dalam hutan untuk beristirahat.
Hari menjelang malam ketika rintik-rintik gerimis berubah menjadi hujan. Tak
apa jika tenda berkapasitas dua orang itu harus ketambahan seekor monster
imut-imut yang kini resmi menjadi guide mereka selama berada di sini. Binggo
masih terlalu lucu jika harus dipanggil monster.
Adi
sudah meringkuk di dalam sleeping bag saat Binggo menceritakan banyak hal pada
mereka. Sedangkan Zach mendengarkan dengan gelas kopi yang aromanya menyerbak
ke seluruh tenda. Biarpun begitu, Adi juga masih setia mendengarkan semua hal yang
keluar dari paruh besar Binggo.
Di
dalam sistem Tata Surya, planet Bumi, menurut penuturan si Burung Enggak
merupakan planet ganda. Suatu tempat dimana Tuhan menciptakan dua kehidupan
dalam satu ruang dan satu waktu. Bahwa ada dunia supranatural yang mendampingi
Bumi, mereka menyebutnya Sisi Bumi. Dua dunia ini bersama-sama mengorbit dan
berevolusi.
Di
masa yang sangat lalu, Bumi dan Sisi Bumi saling berhubungan melalui
portal-portal yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Ribuan portal
itu membuka dan menutup mengikuti siklus beredarnya benda-benda luar angkasa.
Pada
suatu hari dua lempeng bumi bertubrukan, menyiptakan gempa yang menyebabkan
longsong di gunung dan tsunami di pantai. Seluruh permukaan Bumi porak-poranda
dibuatnya.
“Dunia
kita kini bersebrangan,” Kata Binggo melanjutkan. “Biarpun poros Bumi hanya bergeser
sedikit saja, bencana yang ditimbulkannya begitu hebat.”
“Portal-portalnya
jadi tidak singkron.” Zach menghela napas panjang, membayangkan betapa
mengerikannya bencana itu. “Terus?”
Mendengar
itu, Adi jadi terbangun. Dia mulai membebaskan tubuhnya dari sleeping bag dan duduk mendengarkan. Dicarupnya beberapa buah beri yang berhasil dikumpulkan
sepanjang perjalanan mereka siang tadi sebagai cemilan penahan kantuk. Semua
informasi dari Binggo, yang memang penduduk asli Sisi Bumi pastilah sangat
penting.
Binggo
melanjutkan. Poros Bumi semakin miring dan mengacaukan titik-titik portal yang
menghubungkan dua kehidupan ini. Bumi mengalami perubahan ekstrim selama
beribu-ribu tahun, dampaknya peradaban tak lagi sama.
Kota-kota
yang hancur telah melenyapkan teknologi yang ada, juga orang-orang
berpendidikan yang jumlahnya sedikit menjadi semakin sedikit. Catatan-catatan
menghilang. Orang-orang penting mati. Bangunan-bangunan rubuh.
Butuh
waktu yang sangat lama bagi manusia membangun peradabannya kembali. Kesibukan
itulah yang lambat-laun membuat mereka lupa akan keberadaan saudara-saudara mereka di Sisi Bumi.
“Tapi
Sisi Bumi tidak pernah melupakan Bumi kalian.” Binggo menutup panjang lebar
ceritanya dengan jari terangkat. Memberi ketegasan yang pasti. “Sisi Bumi tidak
banyak berubah saat pertama kali Tuhan mengkonsepnya hingga sekarang.
“4
golongan mahluk dibagi menjadi 4 wilayah kekuasaan yang adil. Semuanya
tersegmentasi dengan sangat jelas dengan hukum-hukum pemerintah yang otonom di
setiap kerajaan.
“Tanah
dan Air. Kerajaan Selatan. Kerajaan Manusia.
“Akar
dan Daun. Kerajaan Timur. Desa Monster
“Kabut
dan Samudra. Kerajaan Utara. Istana Pasukan Iblis.
“Langit
dan Cahaya. Kerajaan Barat. Benteng Armada Malaikat.”
Adi
dan Zach hanya saling tatap begitu Binggo menurunkan jarinya. Bagi keduanya,
cerita itu begitu epik di telinga, tapi tatapan kedua orang itu malah terlihat ada
ketakutannya daripada kekagumannya.
“Berarti
kita nggak bisa pulang dong?” Tanya Adi.
Zach
pun sama binggungnya. “Terus bagaimana?”
“Untuk
mengetahui kelanjutan nasib keberadaan kalian di sini, kita harus cepat sampai ke
tempat itu.” Lanjut Binggo. “Kedatangan kalian ke Sini Bumi mungkin
terdengar tak masuk akal bagi orang lain, dan itu berbahaya.”
“Kenapa begitu?”
Adi menuntut.
“Jika
salah satu portal saja ada yang terbuka, pasti ada yang tidak beres dengan kehidupan.” Bola mata Binggo yang besar memburu mereka berdua tajam. “Kalian
harus cepat diamankan.”
“Maksudnya?”
Adi masih menuntut.
“Reputasi
kalian sebagai manusia Bumi yang serakah dan melupakan Sisi Bumi, dimana
saudara semanusia kalian eksis telah menyinggung banyak orang. Karena pada
hakikatnya, dulu mereka pernah bersumpah untuk menyatukan kembali kerajaan
manusia antara yang di Bumi dan yang di Sisi Bumi.”
Memang tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa diturut sekarang. Adi dan Zach sama-sama tahu, mereka sudah terlalu jauh tersesatnya. Dunia ini asing, jauh dari rumah, dan mungkin saja tidak ada jalan pulang.
.....berlanjut.....
…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar